Kepergian mendadak selebgram Lula Lahfah meninggalkan duka mendalam sekaligus mengguncang kesadaran publik tentang rapuhnya batas antara kondisi sehat dan ancaman kematian. Di balik citra fisik yang tampak bugar, tragedi ini mengingatkan bahwa risiko kesehatan serius bisa datang secara senyap, salah satunya melalui henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest.

Kasus yang menimpa Lula Lahfah memicu diskusi luas di ruang publik mengenai betapa kondisi jantung tidak selalu dapat dinilai dari penampilan luar semata. Para ahli kesehatan menegaskan, henti jantung mendadak dapat menyerang siapa saja, termasuk mereka yang tidak memiliki keluhan medis sebelumnya.

Henti jantung mendadak terjadi ketika jantung tiba-tiba berhenti berdetak akibat gangguan pada sistem kelistrikan jantung. Kondisi ini menyebabkan aliran darah ke otak dan organ vital terhenti seketika. Tanpa penanganan cepat dalam hitungan menit, henti jantung dapat berujung pada kematian atau kerusakan otak permanen.

Baca Juga: Tips Aman Menggunakan AC untuk Menjaga Kesehatan Tubuh, Ini Penjelasan Dokter Spesialis Jantung

Beda Henti Jantung dan Serangan Jantung

Meski kerap disamakan, henti jantung dan serangan jantung merupakan dua kondisi yang berbeda. Serangan jantung terjadi akibat sumbatan aliran darah ke otot jantung, yang kerap dianalogikan sebagai masalah “saluran pipa”. Sementara itu, henti jantung merupakan gangguan “kelistrikan” jantung, ketika irama jantung menjadi kacau dan gagal memompa darah.

Serangan jantung dapat memicu henti jantung, namun tidak semua henti jantung diawali oleh serangan jantung. Inilah yang membuat kondisi ini sering kali datang tanpa gejala yang jelas.

Baca Juga: Nyeri Dada adalah Tanda Serangan Jantung, Mitos atau Fakta?

Penyebab Jantung Bisa Berhenti Mendadak

Secara medis, henti jantung paling sering dipicu oleh gangguan irama jantung atau aritmia. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya antara lain penyakit jantung koroner, kardiomiopati atau kelainan otot jantung, serta gangguan katup jantung yang menyebabkan pembesaran otot jantung.

Selain itu, faktor eksternal seperti sengatan listrik, overdosis obat tertentu, hingga ketidakseimbangan elektrolit dalam darah, misalnya kadar kalium dan magnesium yang ekstrem juga dapat memicu henti jantung. 

Baca Juga: Bukan Hanya Junk Food, Ternyata Makanan Sehari-hari Ini Diam-Diam Bisa Merusak Jantung

Aktivitas fisik berlebihan pun berisiko, terutama bagi individu dengan kelainan jantung tersembunyi yang belum terdeteksi.

Tanda Darurat yang Perlu Diwaspadai

Henti jantung sering kali terjadi tanpa peringatan, namun terdapat sejumlah tanda darurat yang harus segera direspons. Di antaranya adalah korban tiba-tiba pingsan atau tumbang, tidak bernapas atau hanya terengah-engah, tidak memiliki denyut nadi, serta tidak merespons saat dipanggil atau diguncang.

Dalam situasi tersebut, waktu menjadi faktor penentu antara hidup dan mati.

Langkah Pertolongan Awal Penyelamat Nyawa

Jika seseorang mengalami henti jantung, masyarakat diimbau untuk segera melakukan langkah pertolongan awal sembari menunggu bantuan medis. Prinsip dasar yang dapat diterapkan adalah memastikan lingkungan aman, mengecek respons korban, dan segera menghubungi layanan darurat.

Apabila korban tidak bernapas, tindakan resusitasi jantung paru (RJP/CPR) dengan kompresi dada dapat dilakukan. Tekanan diberikan di bagian tengah dada secara kuat dan cepat, dengan kecepatan sekitar 100–120 kali per menit, hingga bantuan medis tiba.

Baca Juga: Mengenal Sosok Lula Lahfah, Konten Kreator yang Dikabarkan Meninggal Dunia

Tragedi yang menimpa Lula Lahfah menjadi pengingat bahwa pencegahan tetap menjadi kunci utama. Gaya hidup sehat seperti berhenti merokok, menjaga tekanan darah, mengelola stres, serta rutin melakukan pemeriksaan jantung atau medical check-up dinilai sebagai langkah preventif untuk menekan risiko henti jantung mendadak.