Menurut dr. Nadhira, natrium dapat mengganggu elastisitas pembuluh darah yang pada akhirnya turut meningkatkan risiko hipertensi.
“Belum lagi, natrium juga bisa mengganggu elastisitas dari pembuluh darah, sehingga efeknya juga bisa meningkatkan risiko hipertensi,” tuturnya.
Karena itu, kata dr. Nadhira, masyarakat perlu lebih cermat memperhatikan jumlah natrium yang dikonsumsi setiap hari. Ia pun menegaskan, WHO dan Kementerian Kesehatan merekomendasikan pembatasan konsumsi natrium hingga 2.300 mg per hari.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar satu sendok teh garam, bukan satu sendok makan. Namun, yang perlu menjadi perhatian utama bukan hanya jumlah garam yang ditambahkan saat memasak atau makan, melainkan total natrium dari seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi sepanjang hari.
“Nah, WHO dan Kemenkes menyarankan untuk pembatasan konsumsi natrium sebesar 2.300 mg per hari. Nah, tapi poin penting yang perlu diingat adalah, yang dibatasi adalah natriumnya,” ujar dr. Nadhira.
Hal ini penting karena natrium tidak hanya berasal dari garam dapur. Berbagai makanan olahan dan makanan yang dikonsumsi sehari-hari juga dapat menjadi sumber natrium, termasuk produk yang rasanya tidak selalu terasa sangat asin.
Karena itu, seseorang bisa saja merasa sudah mengurangi penggunaan garam saat memasak, tetapi tanpa disadari tetap mengonsumsi natrium dalam jumlah tinggi dari makanan kemasan, makanan olahan, maupun berbagai produk siap santap.
Terakhir, dr. Nadhira pun mengingatkan masyarakat agar tidak hanya memperhatikan rasa makanan, tetapi juga membiasakan diri membaca informasi nilai gizi pada kemasan.
“Jadi, kita harus selalu mindful dalam melihat label di makanan-makanan, supaya kita tahu apa sih yang kita makan,” pungkasnya.
Baca Juga: Dokter: Tubuh Bukan Pinjol, Makan Gorengan Tak Bisa Dibayar dengan Olahraga