Selain suhu, kualitas air hujan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Selama berada di atmosfer, air hujan dapat berinteraksi dengan debu, polutan udara, mikroorganisme, serta berbagai zat lain. Partikel-partikel tersebut berpotensi menempel pada rambut dan kulit kepala ketika seseorang kehujanan.
“Dalam kondisi tertentu, paparan polutan berpotensi memicu stres oksidatif dan peradangan, meskipun penelitian yang secara langsung menghubungkan air hujan dengan gangguan rambut dan kulit kepala masih terbatas,” kata dr. Widya.
Karena itu, kata dr. Widya, menjaga kebersihan rambut dan kulit kepala setelah kehujanan menjadi langkah yang disarankan. Rambut sebaiknya dibilas menggunakan air bersih dan segera dikeringkan.
Jika terpapar hujan dalam waktu lama, terutama di lingkungan dengan tingkat debu dan polusi yang tinggi, mencuci rambut menggunakan sampo lembut dapat membantu membersihkan partikel yang menempel.
Kehati-hatian juga diperlukan bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Mereka yang sedang demam, mengalami kelelahan berat, menderita infeksi saluran pernapasan, atau memiliki asma dan rhinitis perlu lebih memperhatikan paparan udara dingin. Pada kelompok tersebut, suhu dingin dapat memicu atau memperburuk gejala yang sudah ada.
“Sebagian orang perlu lebih berhati-hati terhadap paparan udara dingin, seperti mereka yang sedang demam, sangat lelah, mengalami infeksi saluran pernapasan, atau memiliki asma dan rhinitis. Pada kondisi tersebut, udara dingin dapat memicu atau memperburuk gejala saluran pernapasan,” jelasnya.
Dengan demikian, kehujanan hingga rambut basah kuyup tidak serta-merta membuat seseorang jatuh sakit. Namun, menjaga tubuh tetap hangat, membersihkan rambut setelah terkena air hujan, dan memperhatikan kondisi kesehatan tetap penting untuk mengurangi ketidaknyamanan serta potensi paparan polutan.
dr. Widya menegaskan, faktor yang perlu diperhatikan bukan sekadar aktivitas keramas saat hujan, melainkan durasi paparan dingin, kualitas air hujan, dan kondisi kesehatan individu.
“Jadi, masalahnya bukan pada keramas saat hujan, tetapi pada paparan dingin berkepanjangan, kualitas air, dan kondisi kesehatan seseorang,” pungkasnya.
Baca Juga: Kasus Influenza A Jadi Sorotan, Ini Bedanya dengan Flu Biasa dan Cara Mengurangi Risikonya