Selain mendesak penangkapan aktor intelektual di belakang akis penyadapan tersebut Sugiat meminta Polri segera mendalami motif penyadapan tersebut dan mengungkapnya secara transparan ke publik. 

"Perlu dilakukan pendalaman secara transparan mengenai motif di balik tindakan ini, apakah murni kejahatan informasi, motif politik untuk mengganggu stabilitas nasional, atau ada keterlibatan jaringan atau kepentingan pihak eksternal tertentu," ucapnya.

Sugiat juga meminta Bareskrim memastikan apakah terdapat keterlibatan institusi lain, pihak swasta, atau aktor tertentu yang memanfaatkan oknum untuk memperoleh informasi sensitif di lingkungan kepresidenan.

"Penyidikan harus membongkar seluruh alur komunikasi dan logistik alat sadap. Harus dipastikan apakah ada keterlibatan institusi lain, pihak swasta, atau aktor lain yang memanfaatkan oknum-oknum tersebut untuk mengakses informasi sensitif kepresidenan," imbuhnya.

Perlu diketahui, hubungan profesional Jokowi dan Listyo sendiri telah terjalin sejak 2011. Saat Jokowi menjabat Wali Kota Surakarta, Listyo pernah bertugas sebagai Kapolresta Surakarta.

Setelah Jokowi terpilih menjadi presiden pada 2014, Listyo dipercaya menjadi ajudannya hingga 2016. Hubungan tersebut berlanjut ketika Jokowi mengusulkan Listyo sebagai calon tunggal Kapolri pada Januari 2021, sebelum akhirnya dilantik menggantikan Jenderal Idham Azis pada 27 Januari 2021.