Growthmates, mengenalkan isu disabilitas kepada anak sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk membangun lingkungan yang lebih inklusif. Pemahaman tersebut perlu ditanamkan agar anak tidak tumbuh dengan stigma, rasa takut, atau pandangan bahwa penyandang disabilitas merupakan kelompok yang harus dikasihani.
Founder KONEKIN sekaligus Disability Equality Training (DET) Facilitator dan Inclusive Practitioner, Marthella Rivera Roidatua Sirait, S.IP., MA., menilai bahwa cara orang tua merespons keberadaan penyandang disabilitas di sekitar anak dapat memengaruhi bagaimana mereka memandang perbedaan.
Menurut Marthella, orang tua sebaiknya tidak membiasakan anak untuk mengasihani penyandang disabilitas ketika melihat seseorang dengan kondisi fisik atau karakteristik yang berbeda.
Ia lantas mencontohkan respons yang masih kerap disampaikan orang tua ketika anak melihat penyandang disabilitas di tempat umum, seperti pusat perbelanjaan.
"Supaya nanti pada saat anak kita lagi di mal ketemu sama anak Down syndrome, Mama, itu kenapa kita nggak lagi menjawab kayak orang tua kita dulu? 'Jangan dilihatin, kasihan.' Yang tanpa sadar sebenarnya itu yang membuat kita merasa lebih superior dibanding yang disabilitas," papar Marthella, dikutip dari laman Instagram @senalar.id, Rabu (4/11/2026).
Marthella melanjutkan, respons seperti itu tanpa disadari dapat membentuk persepsi bahwa orang yang tidak memiliki disabilitas berada dalam posisi yang lebih beruntung atau lebih baik dibandingkan penyandang disabilitas.
Bahkan, kalimat yang bermaksud mengajarkan rasa syukur, seperti meminta anak bersyukur karena memiliki dua kaki dengan membandingkannya dengan orang yang tidak memiliki kaki, juga berpotensi memperkuat pandangan tersebut.
"Karena kita merasa, iya ya, kasihan ya. Berarti kita lebih beruntung dong. Atau malah bersyukur, jadi kayak, makanya kamu bersyukur punya dua kaki. Itu ada yang nggak punya kaki," jelasnya.
Marthella memahami bahwa pola komunikasi tersebut bisa muncul karena keterbatasan pengetahuan generasi sebelumnya. Namun, menurutnya, pola yang sama tidak seharusnya terus diwariskan kepada anak-anak.
Ia pun menekankan pentingnya membekali diri dengan pengetahuan yang tepat agar orang tua mampu menjelaskan keberagaman dan disabilitas secara lebih terbuka.
Baca Juga: Anak Remaja Lebih Suka Curhat ke AI, Psikolog Ungkap 3 Hal yang Perlu Dilakukan Orang Tua