PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC), bank dengan layanan digital, kembali membukukan kinerja positif pada Semester I 2026 dengan mencatatkan laba bersih setelah pajak (Profit After Tax/PAT) sebesar Rp294,85 miliar. Capaian tersebut meningkat 6,81% secara year-on-year (YoY) dibandingkan Semester I 2025 sebesar Rp276,05 miliar.

Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, mengatakan bahwa hasil kinerja Semester I 2026 merupakan refleksi dari fokus Perseroan dalam membangun fondasi bisnis yang lebih sehat sebagai bekal memasuki fase pertumbuhan berikutnya.

Baca Juga: SMBC Indonesia Catat Pendapatan Rp8,6 Triliun pada Semester I-2026

"Semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi kami untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin telah memberikan hasil yang positif. Kami percaya fondasi yang kuat merupakan prasyarat utama untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan menjadikan BNC menjadi bank berbasis digital yang semakin tepercaya," jelas Eri dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (2/8/2026).

Sepanjang Semester I 2026, BNC mencatatkan total aset sebesar Rp17,45 triliun, serta Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp12,30 triliun. Dana tabungan meningkat menjadi Rp3,39 triliun atau tumbuh 2,10% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan kepercayaan nasabah yang terus terjaga terhadap BNC.

Dari sisi pendapatan, Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) tercatat sebesar Rp1,11 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi (Fee Based Income) meningkat menjadi Rp59,66 miliar, atau tumbuh 6,77% YoY. Dari sisi produk, berbagai layanan kini semakin diminati masyarakat, di antaranya, adalah layanan QRIS yang mengalami peningkatan signifikan jumlah transaksi sebesar 124%, dari 119,3 juta kali transaksi di Semester I 2025 menjadi 267,4 juta kali transaksi di Semester I 2026.

Dari sisi pendapatan yang dihasilkan dari transaksi QRIS, terjadi lompatan peningkatan sebesar 246% menjadi Rp25,8 miliar di akhir Semester I 2026 dari sebelumnya Rp7,4 miliar di Semester I 2025. Meningkatnya jumlah transaksi QRIS di sepanjang Semester I 2026 ini menunjukkan bahwa BNC telah menjadi bank dengan layanan digital yang semakin mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dalam bertransaksi.

Sementara itu, efisiensi operasional terus mengalami perbaikan. Rasio BOPO membaik menjadi 82,31% dibandingkan 84,81% pada Semester I 2025, atau mengalami perbaikan sekitar 2,50%. Rasio Return on Assets (ROA) juga meningkat menjadi 3,23% dari 3,09%, atau naik 0,14% YoY. Di sisi kualitas aset, rasio Non Performing Loan (NPL) Gross berhasil ditekan menjadi 2,99% dibandingkan 3,10% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

BNC juga semakin memperkuat struktur permodalannya seiring dengan pertumbuhan laba bank. Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat signifikan menjadi 50,23%, dibandingkan 41,27% pada Semester I 2025 atau meningkat sekitar 8,95% YoY. Modal inti Perseroan turut meningkat menjadi Rp4,20 triliun, tumbuh 14,52% YoY.

Dalam penyaluran kredit, BNC secara terukur menerapkan strategi pertumbuhan yang lebih selektif. Total kredit tercatat sebesar Rp7,13 triliun, menurun 11,79% YoY dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar Rp8,09 triliun. Penyaluran kredit kepada segmen konsumer dan UMKM secara gabungan meningkat menjadi Rp5,80 triliun, dibandingkan Rp5,44 triliun pada Semester I 2025, atau tumbuh 6,68% secara year-on-year (YoY).

"Kami percaya bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan harus dibangun di atas fondasi kinerja yang kuat, teknologi yang semakin andal, serta kepercayaan yang terus tumbuh dari nasabah dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan struktur permodalan yang semakin kokoh, kualitas operasional yang terus membaik, dan pengalaman lebih dari lima tahun sebagai bank dengan layanan digital, BNC kini menjadi bank berbasis digital yang sehat dan siap memasuki fase pertumbuhan berkelanjutan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh stakeholders," pungkas Eri.