“Proses suksesi primer dapat berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun, bergantung pada kondisi lingkungan dan keberadaan agen penyebar biji,” jelasnya.
Dengan demikian, pemulihan alam setelah erupsi bukanlah proses yang berlangsung secara instan. Ekosistem berkembang secara bertahap seiring perubahan kondisi lingkungan dan masuknya berbagai organisme baru.
Meski identik dengan kehancuran, erupsi gunung api juga dapat menciptakan ruang hidup baru bagi berbagai organisme. Lava yang mendingin, misalnya, akan menjadi batuan vulkanik yang kemudian mengalami pelapukan. Dalam proses yang berlangsung secara bertahap, material tersebut dapat berkembang menjadi tanah yang kaya mineral dan mendukung pertumbuhan vegetasi.
Perubahan juga terjadi di wilayah perairan. Material vulkanik yang masuk ke laut dapat menjadi substrat bagi pertumbuhan karang. Sementara itu, terbentuknya gua lava, kawah, dan tebing baru menciptakan niche atau relung ekologis yang dapat dimanfaatkan kelelawar, burung, kadal, serta organisme lainnya.
Artinya, perubahan bentang alam akibat erupsi tidak hanya menghilangkan habitat lama, tetapi sekaligus membuka kemungkinan terbentuknya habitat baru dengan karakteristik yang berbeda.
Dan, karena Anak Krakatau merupakan kawasan konservasi berupa cagar alam sekaligus masih aktif secara vulkanik, Dr. Agus menekankan pentingnya membiarkan proses alami berlangsung.
Menurutnya, upaya konservasi justru perlu diarahkan untuk memastikan suksesi alami tidak terganggu. Langkah tersebut dapat dilakukan dengan mencegah masuknya spesies asing invasif, tidak mengintroduksi tanaman dari luar, serta melakukan pemantauan terhadap aktivitas erupsi, tsunami, perkembangan vegetasi, dan satwa liar secara jangka panjang.
“Krakatau adalah laboratorium alam proses suksesi primer. Tugas konservasi bukan mengembalikan alam seperti semula, tetapi melindungi proses suksesi alami agar berjalan dengan baik,” pungkas Dr. Agus.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Hujan Abu Vulkanik, Kapan Aktivitasnya Berhenti?