Growthmates, erupsi gunung api tidak selalu menjadi akhir bagi kehidupan. Di balik kehancuran vegetasi dan habitat, letusan justru dapat menjadi awal terbentuknya ekosistem baru melalui proses suksesi primer.

Fenomena tersebut dapat dilihat di kawasan Krakatau yang selama ini menjadi salah satu laboratorium alam penting untuk mempelajari bagaimana ekosistem berkembang dari kondisi yang nyaris tanpa kehidupan hingga perlahan membentuk komunitas tumbuhan dan satwa.

Ahli konservasi tumbuhan sekaligus dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr. Agus Hikmat, menjelaskan bahwa letusan Krakatau pada 1883 menjadi salah satu studi kasus klasik dalam kajian perkembangan ekosistem.

Kemunculan Anak Krakatau pada 1927 dari sisa aktivitas erupsi tersebut kemudian menghadirkan ekosistem baru yang pada awalnya nyaris kosong dari flora dan satwa liar.

“Erupsi gunung berapi akan mereset ekosistem yang ada menjadi ekosistem yang baru. Ekosistem di kawasan Krakatau merespons dalam tiga fase, yaitu fase penghancuran, kolonisasi, dan stabilisasi ekosistem,” papar Dr. Agus, sebagaimana dikutip dari laman IPB University, Jumat (11/9/2026).

Fase pertama merupakan tahap penghancuran. Suhu panas, abu vulkanik, gas beracun seperti sulfur dioksida (SO₂), hingga tsunami yang menyertai aktivitas vulkanik dapat menyebabkan vegetasi mengalami kerusakan berat bahkan mati.

Dampak erupsi juga dirasakan oleh satwa liar. Sebagian dapat mati, melarikan diri, atau terbawa gelombang tsunami. Namun, tidak semua organisme serta-merta menghilang dari kawasan terdampak.

“Satwa liar juga terdampak, baik karena kematian, melarikan diri, maupun terbawa gelombang. Namun, sebagian satwa seperti burung laut, kelelawar, dan serangga terbang dapat bertahan sekaligus berperan sebagai agen penyebar biji,” imbuhnya.

Keberadaan satwa yang mampu bertahan tersebut menjadi bagian penting dalam tahap berikutnya, yakni kolonisasi. Setelah permukaan pulau tertutup pasir atau batuan vulkanik, organisme pionir mulai menempati wilayah yang sebelumnya nyaris tidak mendukung kehidupan.

Mikroba, lumut, dan jamur menjadi kelompok awal yang dapat hadir. Seiring waktu, perubahan substrat dan kondisi lingkungan memungkinkan rerumputan, semak, perdu, hingga pohon-pohon kecil tumbuh secara bertahap dan membentuk hutan muda.

Baca Juga: Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau bagi Ekosistem Laut, Pakar IPB Ungkap Faktanya