Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program andalan pemerintahan Presiden Prabowo dengan anggaran paling besar dibanding program prioritas lainnya. MBG menelan ongkos hingga Rp335 triliun yang menjadikannya sebagai salah satu program yang paling disorot publik, banyak yang mengerik tetapi tidak sedikit pula yang mengapresiasi. 

MBG sendiri bukanlah program yang dirancang dadakan sebagai pemanis dalam paparan visi-misi pada masa kampanye Pilpres 2019 lalu. Ide mengenai perbaikan gizi generasi muda untuk menciptakan generasi unggul di masa depan itu sebetulnya telah tercetus 20 tahun lalu, usia gagasan ini bahkan jauh lebih tua melampaui gagasan Prabowo mendirikan Partai Gerindra.  

Baca Juga: Diplomasi Prabowo-Putin Selamatkan Indonesia dari Ancaman Krisis Energi

“Stunting ini adalah yang menyebabkan Prabowo Subianto pada tahun 2006 mencetuskan ide untuk program MBG ini. Ini 2006, berarti 19 tahun lalu, 20 tahun lalu Pak Prabowo waktu itu belum ada partai Pak Jaksa Agung, belum ada Partai Gerindra, belum ada imajinasi, belum ada khayalan untuk mendirikan partai,” kata Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo dilansir  Senin (20/4/2026). 

Misi besarnya memang ingin memperbaiki gizi, tetapi ada satu hal yang mengganjal di hati Prabowo, bahkan masalah itu sudah pada tahap mengganggu pikirannya, Stunting. Prabowo punya niat tulus untuk menghapus jenis penyakit yang satu ini 

 “Namun waktu itu Pak Prabowo sudah melihat bahwa stunting merupakan suatu ancaman bagi masa depan bangsa kita. Waktu itu 2006 saya ingat, 30% ini menurut Kementerian Kesehatan waktu itu, 30% anak-anak Indonesia waktu itu menderita dari kondisi namanya stunting, 30%. Sewaktu itu Pak Prabowo bilang ke saya, kalau ini tidak bisa ditanggulangi kondisi yang berat ini kita bisa bayangkan 20 tahun kemudian, dia bilang 30% angkatan kerja dari angkatan kerja Indonesia itu 30% adalah orang-orang yang menderita stunting, 30%,” lanjutnya. 

Stunting bukan sekadar masalah fisik, melainkan kapasitas intelektual. Ia membandingkan rata-rata IQ penderita stunting yang berada di angka 72, jauh di bawah rata-rata manusia normal yang berada di angka 100. 

“Sekarang 20 tahun, 20 tahun dari 2006 sekarang jangan-jangan 30% dari para pekerja kita di desa atau di pabrik atau di kota besar menderita dari stunting.Coba, dengan IQ rata-rata yang Saya dengar 72. Orang-orang yang stunting mereka IQ-nya rata-rata 72 dari manusia yang biasa 100,” ungkap Hashim yang juga merupakan adik kandung Presiden Prabowo itu. 

Oleh karena itu, Hashim menegaskan bahwa program MBG menjadi langkah strategis untuk memutus rantai stunting dan meningkatkan kecerdasan generasi mendatang, terutama bagi anak-anak yang selama ini mengalami hambatan pertumbuhan.

Terkait pelaksanaan program MBG, Hashim tidak menampik adanya hambatan teknis di lapangan. Namun, ia menyayangkan adanya pihak-pihak yang menyerang program ini. 

Baca Juga: Prabowo Bakal Resmikan Museum Marsinah pada May Day 2026

 “MBG ada salah satu program utama dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dan di sini kita lihat bahwa tulisan saja program MBG ini banyak diserang oleh kelompok-kelompok tertentu dengan fitnah dan hoax dengan kebohongan. Namun kita harus betul-betul menanggapi aspirasi dari rakyat yang benar-benar aspirasi yang tulus,” pungkasnya.