Kenaikan harga plastik yang terjadi dalam beberapa hari belakangan mengguncang masyarakat Indonesia.
Kenaikan harga itu dikhawatirkan merembet pada kenaikan harga barang lainnya, sebab saat ini sejumlah pedagang telah memberlakukan biaya tambahan pada produk tertentu karena alasan kenaikan harga plastik.
Kenaikan Harga Minyak dan Putusnya Rantai Pasok
Kenaikan harga plastik dipicu satu masalah utama yakni kenaikan harga minyak yang ikut mengatrol biaya produksi plastik.
Lebih dari 99 persen plastik global diproduksi dari bahan bakar fosil sehingga kenaikan harga energi langsung berdampak pada biaya produksi.
Baca Juga: CEO Martha Tilaar Group Bicara Dampak Penutupan Selat Hormuz ke Industri dalam Negeri
Bahan baku utama plastik seperti polietilen dan polipropilen ikut mengalami kenaikan harga signifikan.
Selain kenaikan harga minyak dan gas yang memicu kenaikan harga plastik, faktor lainya yang mengerek harga plastik adalah gangguan rantai pasok imbas penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.
Kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar seperempat ekspor global kedua bahan tersebut sehingga gangguan distribusi berdampak besar secara global.
Sekitar 84 persen kapasitas produksi polietilen di Timur Tengah bergantung pada jalur ekspor melalui Selat Hormuz.
Apa Alternatif Pengganti Plastik?
Plastik menjadi salah satu kebutuhan dasar di berbagai sektor industri seperti pengemasan, konstruksi, otomotif, hingga layanan kesehatan.
Sejauh ini peran penting plastik hampir belum bisa digantikan dengan alternatif lain. Kertas atau kaca bisa menjadi pilihan namun penggunaan kedua jenis barang tersebut butuh ongkos yang jauh lebih besar.
Baca Juga: Kapal Pertamina Belum Bisa Menembus Selat Hormuz
Alternatif paling ideal yang dilakukan sekarang ini adalah memangkas ukuran plastik atau mengurangi volume ketebalan plastik untuk menekan biaya produksi.
Gara-gara gejolak Timur Tengah yang terjadi sekarang ini, produk dengan komposisi plastik tinggi diperkirakan mengalami kenaikan harga lebih tajam dibanding produk kompleks seperti kendaraan.