AMS 2024–2025 sendiri menunjukkan tingkat optimisme yang tinggi di kalangan pelaku industri fintech. Perusahaan kini lebih fokus pada efisiensi, profitabilitas, serta tata kelola berkelanjutan.
Perubahan strategi ini tercermin dalam berbagai indikator kunci di industri fintech. Pada 2025, sebanyak 43,4 persen perusahaan memutuskan untuk tidak lagi mencari pendanaan eksternal atau meningkat dari 38,9 persen pada 2024, yang menunjukkan pergeseran fokus menuju optimalisasi internal dan pencapaian profitabilitas.
Optimisme industri juga tampak dari rencana ekspansi tenaga kerja, dengan 57,38 persen perusahaan berencana menambah karyawan, sementara jumlah perusahaan yang melakukan perampingan justru menurun drastis menjadi hanya 16,33 persen.
Di saat yang sama, 94,26 persen responden menilai bahwa kerangka regulasi pemerintah kini semakin mendukung inovasi digital. Dari sisi tata kelola, kemajuan signifikan terlihat pada meningkatnya tingkat kepatuhan terhadap Kode Etik AFTECH yang mencapai 73,77 persen, serta tingginya adopsi standar keamanan internasional ISO/IEC 27001 oleh 88,04 persen perusahaan fintech.
Model bisnis fintech mengalami transformasi signifikan. Pengguna utama segmen business-to-business (B2B) melonjak dari 27,48 persen pada 2024 menjadi 50 persen pada 2025. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya posisi fintech sebagai mitra transformasi digital bagi sektor korporasi dan industri.
Selain itu, globalisasi layanan terus menguat. Perusahaan fintech yang telah melayani pengguna internasional tumbuh dari 56 persen menjadi 64 persen.
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menegaskan bahwa AMS 2024–2025 memberi gambaran komprehensif tentang peluang dan tantangan industri.
“Kita melihat progres besar dalam aspek tata kelola, keamanan, dan kapabilitas teknologi. Namun, masih terdapat sejumlah kesenjangan yang perlu dijembatani. Ke depan, salah satu fokus utama AFTECH adalah memperkuat governance untuk meningkatkan trust sehingga mendorong confidence di industri digital, khususnya fintech. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mengatasinya,” ungkapnya.
Firlie juga memastikan bahwa hasil AMS menjadi dasar penyusunan agenda strategis AFTECH tahun depan, mulai dari penguatan advokasi kebijakan, standardisasi keamanan, peningkatan tata kelola industri, penguatan sinergi antara sektor riil dan digital, hingga program literasi dan inklusi keuangan.
Annual Members Survey AFTECH 2024–2025 ini menegaskan bahwa industri fintech Indonesia telah memasuki fase penting, yakni fase di mana pertumbuhan tidak lagi semata-mata tentang ekspansi, tetapi juga tentang ketahanan, tata kelola, keberlanjutan, dan pemerataan manfaat.
Dengan kolaborasi kuat antara regulator, pelaku industri, dan masyarakat, ekosistem fintech Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk menghadirkan transformasi digital yang lebih inklusif dan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.