Memilih susu formula untuk anak bukan perkara sederhana. Di tengah banyaknya pilihan di pasaran, orang tua biasanya dihadapkan pada sederet informasi di kemasan, mulai dari kandungan nutrisi, bahan tambahan, hingga berbagai klaim mengenai produk.

Namun, ada satu hal yang tak selalu terlihat di kemasan, yaitu dari mana bahan utamanya berasal dan bagaimana perjalanan susu tersebut hingga sampai ke tangan konsumen. Pertanyaan itulah yang coba dijawab AceKid melalui kampanye #CekTransparansiAceKid.

Lewat program Ace Fresh Journey, lebih dari 30 ibu dan orang tua Indonesia, bersama Brand Ambassador, figur publik, tenaga ahli, serta mitra AceKid, diajak melihat langsung perjalanan produksi susu formula di ekosistem FEIHE AceKid di Qiqihar dan Smart Factory di Harbin, China.

Perjalanan tersebut dimulai dari peternakan sapi perah, proses pemerahan dan pengumpulan susu segar, hingga pengolahan, manufaktur, dan pengendalian kualitas sebelum produk menjadi susu formula.

Marketing Director FEIHE AceKid Indonesia, Lucky Zheng, mengatakan keterbukaan mengenai proses tersebut merupakan bagian dari upaya agar orang tua memiliki informasi yang lebih utuh ketika memilih produk nutrisi untuk anak.

“Kami percaya orang tua perlu mengetahui bukan hanya informasi nutrisi pada kemasan, tetapi juga dari mana sumber susu berasal dan bagaimana kualitasnya dijaga. Melalui Ace Fresh Journey, kami memperlihatkan proses tersebut secara langsung dari peternakan hingga menjadi susu formula. Dengan transparansi ini, kami berharap orang tua dapat lebih yakin terhadap kualitas dan keamanan produk sekaligus melihat secara nyata makna ‘Dari Susu Segar, Nutrisi Lebih Baik’,” tutur Lucky.

Bagi sebagian peserta, perjalanan ini memberikan perspektif yang berbeda. Selama ini, perhatian orang tua saat memilih susu mungkin lebih banyak tertuju pada produk yang sudah berada di rak atau informasi yang tercetak di kemasan.

Denny Sumargo, Brand Ambassador AceKid, mengaku pengalaman melihat langsung proses tersebut membuatnya menyadari bahwa asal bahan baku juga layak menjadi perhatian.

“Selama ini kita mungkin lebih banyak melihat informasi yang ada di kemasan tanpa benar-benar tahu bagaimana produk tersebut dibuat. Setelah melihat langsung peternakan sampai proses produksinya, saya baru memahami bahwa dari mana sumber susu berasal dan bagaimana kualitasnya dijaga ternyata sama pentingnya. Keterbukaan seperti ini membuat kita sebagai orang tua bisa memahami produk dengan lebih lengkap dan lebih yakin dalam menentukan pilihan untuk anak,” terang Denny.

Pandangan serupa disampaikan aktris sekaligus ibu, Ryana Dea. Ia mengaku baru mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai bagaimana kualitas susu diperhatikan sejak berada di lingkungan peternakan.

“Setelah datang langsung, saya baru tahu bahwa kualitas susu sudah dijaga sejak dari lingkungan peternakan, kesehatan sapi, pakan, sampai proses pemerahan. Saya jadi semakin paham kenapa mengetahui sumber susu juga penting bagi orang tua. Apalagi setelah rutin memberikan AceKid, dari pengalaman pribadi saya anak terasa lebih nyaman dan tidak lagi sering rewel karena kembung setelah minum susu,” ungkap Ryana.

Pengalaman pribadi Ryana tersebut menjadi pengalamannya sebagai orang tua, bukan klaim medis mengenai efek produk. Sementara itu, kunjungan ke peternakan memberikan kesempatan bagi para peserta untuk melihat tahap awal perjalanan bahan baku sebelum masuk ke fasilitas produksi.

FEIHE AceKid menyebut memiliki 15 peternakan mandiri dengan sekitar 150.000 ekor sapi di kawasan Golden Milk Source 47° Lintang Utara. Proses pemerahan dilakukan secara otomatis dan terjadwal. Susu segar kemudian didinginkan pada suhu 0–4 derajat Celsius dan dikirim ke fasilitas produksi dalam waktu sekitar dua jam.

FEIHE AceKid juga menyebut susu segar yang dihasilkan memiliki jumlah bakteri 20 kali lebih rendah dibandingkan standar Uni Eropa.

Baca Juga: Masuk Pasar Indonesia, AceKid Hadirkan Inovasi Susu Formula Berbasis Natural Whole Milk