Peningkatan produktivitas sawit rakyat tidak selalu harus dilakukan dengan menambah luas lahan. Penerapan budidaya yang tepat dan efisien menjadi kunci untuk meningkatkan hasil sekaligus menjaga keberlanjutan perkebunan.

Hal tersebut menjadi fokus Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 298 pekebun Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, pada 2–7 Agustus 2026 di Balikpapan.

Pelatihan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang dilaksanakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Baca Juga: BPDP, Ditjenbun, dan PT RPN Perkuat Kompetensi Pekebun Sawit Muara Enim Lewat SDMP 2026

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, S.P., M.P., mengatakan pengalaman pekebun perlu diperkuat dengan pengetahuan berbasis data dan hasil penelitian.

“Petani mungkin sudah bertahun-tahun mengelola kebun, tetapi pengalaman itu perlu dikorelasikan dengan data dan hasil penelitian. Dengan begitu petani memahami mengapa harus menggunakan benih unggul, bagaimana pemupukan yang benar, hingga pentingnya menjaga kesehatan tanah,” ujarnya, Senin (3/8/2026).

Menurut Idum, penerapan GAP membantu pekebun menggunakan pupuk, tenaga kerja, dan sarana produksi secara lebih efisien. Materi pelatihan meliputi penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pupuk organik, pemeliharaan tanaman, pengendalian OPT, hingga penggunaan pestisida secara bijak.

“Tujuan akhirnya adalah kebun yang lebih produktif, biaya budidaya lebih efisien, dan hasil panen yang semakin baik,” katanya.

Target Produktivitas 30 Ton

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, SP, M.Si, mengatakan produktivitas sawit rakyat masih berpeluang ditingkatkan.

“Target kita minimal produktivitas kebun bisa mencapai 30 ton per hektare per tahun. Ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini harus diterapkan ketika kembali ke kebun, mulai dari pemilihan bibit, pemupukan, penyemprotan hingga perawatan tanaman,” tegasnya.

Selain produktivitas, kualitas TBS juga menjadi perhatian. Saat ini, rendemen sawit di Paser masih di bawah 25 persen, sementara rendemen yang baik berada pada kisaran 25–32 persen.

Oleh karena itu, peningkatan produksi harus dibarengi dengan perbaikan kualitas TBS agar rendemen minyak sawit juga meningkat.

Untuk memperkuat pemahaman, AKPY mengagendakan praktik lapangan dan kunjungan ke PT Waru Kaltim Plantation (WKP) dan PT Sukses Tani Nusasubur (STN), anak usaha Astra Agro Lestari. Pekebun akan melihat langsung penerapan GAP, termasuk pengelolaan tanaman, pemupukan, dan pemeliharaan kebun.

Baca Juga: BPDP, Ditjenbun, dan AKPY Gelar Pelatihan Budidaya Sawit ke Pekebun Luwu Timur

Djoko mengapresiasi dukungan BPDP, Ditjenbun, dan AKPY. Sepanjang 2026, sebanyak 556 pekebun Paser telah mengikuti rangkaian pelatihan panen, pascapanen, dan budidaya.

“Peningkatan kapasitas petani merupakan investasi penting untuk mewujudkan perkebunan sawit yang produktif sekaligus berkelanjutan,” katanya.

Idum berharap peserta tidak hanya memahami materi pelatihan, tetapi juga menerapkannya di kebun dan membagikan pengetahuan tersebut kepada pekebun lainnya.

“Petani yang hebat adalah petani yang selalu mau belajar karena dunia terus berkembang,” tutupnya.