Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) menekankan bahwa kompetensi teknis petani sawit perlu untuk terus ditingkatkan sejalan dengan produktivitas kebun sawit rakyat yang masih memiliki ruang untuk dioptimalkan, termasuk di wilayah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. 

Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, S.P., M.P., mengungkapkan bahwa dengan penguatan kompetensi petani sawit, pengelolaan kebun tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga menerapkan praktik budidaya yang tepat dan berbasis data. 

Baca Juga: Perlindungan Pekerja Berkontribusi Positif ke Produktivitas Industri Sawit

Menyadari pentingnya hal tersebut, AKPY bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026. Pelatihan yang digelar pada Senin (10/8/2026) tersebut diikuti oleh 171 peserta (mayoritas pekebun, enam ASN dinas terkait) dari Kabupaten Barito Utara.

“Dari sisi produktivitas (perkebunan sawit) masih rendah, mau tidak mau harus diakui seperti itu,” tegas Idum di Palangka Raya, dikutip pada Rabu (12/8/2026). 

Baca Juga: AKPY Bersama BPDP dan Ditjenbun Dorong 298 Pekebun di Kabupaten Paser Tingkatkan Produktivitas Sawit

Idum menambahkan, peningkatan produktivitas tidak cukup dilakukan dengan menambah luas lahan. Pekebun perlu meningkatkan kemampuan dalam menerapkan teknik budidaya secara tepat, mulai dari pemilihan bahan tanam, pemupukan, pengelolaan organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga teknik perawatan tanaman.

“Petani yang hebat itu tidak hanya tergantung pada luas lahan, tetapi petani yang harus terus mau belajar dan berinovasi,” lanjut Idum.

Sebab itu, pelatihan tidak hanya memberikan teori. Peserta juga mendapatkan praktik teknis, termasuk pancang tanam, pengelolaan OPT dan teknik penyemprotan. Peserta juga dijadwalkan mengikuti field trip ke PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) untuk melihat langsung praktik pengelolaan kebun.

Idum menilai pengalaman pekebun perlu dipadukan dengan pengetahuan teknis dan kajian ilmiah berbasis data. Dengan demikian, keputusan pengelolaan kebun dapat dilakukan secara lebih tepat dan terukur.

Selain teknik budidaya, pekebun juga perlu menghadapi tantangan perubahan iklim. Ancaman El Nino dan kekeringan, menurut Idum, harus diantisipasi karena dapat memengaruhi produktivitas tanaman sekaligus perkembangan OPT.

Persoalan pemupukan dan kualitas benih juga menjadi perhatian. Pekebun harus memastikan tanaman memperoleh nutrisi yang cukup serta menggunakan benih unggul dan terjamin. Kesalahan memilih bahan tanam dapat berdampak panjang terhadap produktivitas kebun.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barito Utara, Adi Haryadi, S.Pi., M.Si., menilai bahwa sektor kelapa sawit memiliki peran strategis bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, peningkatan produktivitas tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional.

“Untuk mencapai produktivitas yang optimal dan berkelanjutan, kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama secara konvensional,” ujarnya.

Ia meminta 171 peserta memanfaatkan pelatihan untuk menggali ilmu, mendiskusikan persoalan nyata di lapangan, serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh setelah kembali ke kebun.

“Keberhasilan pembangunan perkebunan di Barito Utara berada di tangan SDM yang terampil, mandiri, dan terus berinovasi,” katanya.

Melalui penguatan kompetensi tersebut, pelatihan SDMP 2026 diharapkan mampu mempersempit kesenjangan antara potensi produktivitas kebun rakyat dan hasil aktual di lapangan, sehingga peningkatan produksi dapat dilakukan melalui praktik budidaya yang lebih tepat tanpa harus bergantung pada perluasan lahan.