Perkembangan kecerdasan buatan (AI), peran kreator, dan perubahan perilaku konsumen di media sosial semakin membentuk lanskap bisnis di Asia Pasifik.

Melihat perubahan tersebut, Meta terus mengembangkan ekosistem yang menghubungkan proses penemuan produk, interaksi dengan konsumen, hingga transaksi dalam satu rangkaian pengalaman digital.

Hal tersebut disampaikan Vice President, Asia Pacific, Meta, Benjamin Joe, dalam pemaparan pers regional. Menurutnya, Asia Pasifik memiliki karakteristik pasar yang unik karena kebiasaan konsumen menemukan dan membeli produk melalui media sosial telah terbentuk dengan kuat.

“Kami tidak sekadar membangun koleksi produk. Namun kami membangun ekosistem yang bisa membantu pengguna menemukan produk dan layanan dalam keseharian mereka,” kata Joe, dikutip dari keterangan resminya, Rabu (19/8/2026).

“Seseorang dapat menemukan produk melalui livestream, mendengarnya dari kreator yang diikuti, serta kemudian mengajukan pertanyaan dan memperoleh jawaban melalui chat. Setiap tahapan saling terhubung dan memperkuat tahapan berikutnya,” lanjutnya.

Menurut data yang dipaparkan Meta, sekitar separuh konsumen di Asia Pasifik menemukan sekaligus membeli produk melalui media sosial.

Sebanyak 80 persen konsumen di kawasan tersebut juga menonton livestream setiap pekan. Sementara itu, tingkat kepercayaan terhadap rekomendasi kreator di Asia Pasifik disebut lebih tinggi dibandingkan kawasan lain di dunia.

Temuan tersebut sejalan dengan perubahan cara konsumen berbelanja. Berdasarkan Holiday Shopping Study oleh Ipsos yang ditugaskan Meta, 50 persen konsumen Asia Pasifik berbelanja secara online melalui media sosial, lebih tinggi dibandingkan rata-rata konsumen global sebesar 37 persen.

Studi yang dilakukan berdasarkan survei terhadap 14.473 pembeli di berbagai negara pada November 2025 itu juga menunjukkan karakter musim belanja yang berbeda di Asia Pasifik.

Sebanyak 69 persen konsumen di kawasan tersebut berbelanja pada momen 12.12, lebih tinggi dibandingkan Black Friday yang mencapai 49 persen.

Momen Tahun Baru juga menjadi periode penting. Sebanyak 47 persen konsumen Asia Pasifik melakukan pembelian pada periode tersebut, dibandingkan 19 persen konsumen di Amerika Utara.

Lebih jauh, konsumen yang menemukan produk melalui platform Meta tercatat melakukan pembelian 1,3 kali lebih banyak dibandingkan konsumen di kawasan lain. Tingkat kepercayaan terhadap ulasan produk dari kreator di Asia Pasifik juga enam poin lebih tinggi dibandingkan kawasan lainnya.

“Ini bukan sekadar kumpulan produk. Ini adalah ekosistem yang mendorong konsumen melakukan tindakan setelah menemukan produk,” ujar Joe.

AI Beralih dari Eksperimen Menjadi Infrastruktur Bisnis

Selain perubahan perilaku konsumen, AI menjadi salah satu faktor utama yang mendorong transformasi bisnis di kawasan Asia Pasifik. Joe melihat adanya perubahan signifikan dalam cara perusahaan memandang teknologi tersebut.

Jika sebelumnya perusahaan masih berada pada tahap eksplorasi dan mempertanyakan potensi penggunaan AI, kini fokus mereka bergeser pada seberapa cepat teknologi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam operasional.

“Tahun lalu, percakapan seputar AI masih berada pada tahap eksperimen, penuh kehati-hatian, eksploratif, dan dipenuhi pertanyaan spekulatif. Tahun ini, setiap pertemuan saya dengan klien, mereka ingin tahu seberapa cepat mereka dapat mengintegrasikan AI ke dalam operasional. Mereka tidak lagi bereksperimen. Mereka tengah membangun sistem,” kata Joe.

Meta sendiri memanfaatkan teknologi large language model (LLM) untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam memprediksi dan menentukan peringkat iklan.

Penggunaan teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan relevansi iklan sekaligus mendorong konversi di Facebook dan Instagram.

Adopsi AI juga terlihat di kalangan pelaku usaha. Meta mencatat sekitar 9 juta usaha kecil kini menggunakan setidaknya salah satu creative tools berbasis AI generatif milik Meta untuk membuat iklan. Sementara itu, penggunaan fitur pembuatan gambar meningkat lebih dari dua kali lipat pada kuartal ini.

Secara keseluruhan, pendapatan Meta tumbuh 28 persen secara tahunan, sementara 3,6 miliar orang menggunakan setidaknya satu aplikasi Meta setiap hari.

Joe menilai, perkembangan AI seharusnya tidak hanya dapat dinikmati oleh perusahaan besar. Karena itu, Meta berupaya membuat teknologi tersebut dapat diakses berbagai lapisan pelaku usaha.

“Mulai dari seorang wirausahawan, pelaku usaha kecil, agensi, hingga tim marketing di dalam perusahaan bisa memiliki akses ke tools berbasis AI yang sama untuk menemukan pelanggan, mendorong penjualan, dan mengembangkan bisnis. Kami ingin menjadi platform terbaik untuk mengembangkan setiap bisnis,” tuturnya.

Baca Juga: Perkuat Bisnis di Indonesia, WhatsApp Hadirkan Meta Business Agent

Kreator Jadi Penghubung antara Produk dan Konsumen

Di tengah perubahan pola belanja, kreator juga memainkan peran penting dalam membantu konsumen menemukan produk. Meta mengembangkan berbagai fitur yang memungkinkan kreator sekaligus pelaku usaha terhubung lebih langsung dengan calon pembeli.

Salah satunya melalui iklan berbentuk video live yang memungkinkan bisnis memanfaatkan format livestream. Penayangan dapat dimulai dalam waktu sekitar dua menit tanpa biaya penjualan dari platform.

Format ini dinilai relevan dengan kebiasaan konsumen Asia yang sebagian besar telah terbiasa menonton livestream setiap pekan.

Meta juga memperluas program affiliate di Asia Pasifik. Melalui program tersebut, kreator dapat bekerja sama dengan mitra ritel dan memperoleh komisi dari penjualan produk yang direkomendasikan melalui konten.

Program affiliate telah diperluas bersama Shopee untuk Facebook dan Instagram, Lazada di Asia Tenggara, serta Flipkart dan Myntra di India. Dalam setahun terakhir, lebih dari 10 juta kreator di Asia Pasifik telah menghubungkan akun Facebook mereka dengan program affiliate.

Dalam satu bulan terakhir, kreator disebut telah memperoleh lebih dari US$24 juta dalam bentuk komisi melalui affiliate posts, termasuk Reels, di Facebook. Meta juga mulai menguji solusi iklan berbasis affiliate.

Selain affiliate, fitur tag produk memungkinkan kreator menambahkan produk secara langsung ke dalam unggahan, termasuk Reels. Dengan demikian, kreator tidak lagi harus mengarahkan audiens untuk mencari tautan melalui bio. Fitur tersebut juga dilengkapi ikon belanja dan label ‘Memenuhi Syarat untuk Komisi’ untuk meningkatkan transparansi.

Sementara itu, melalui iklan kemitraan, brand dapat mengalokasikan anggaran untuk memperluas jangkauan konten autentik yang dibuat kreator, dengan tetap mendapatkan persetujuan dari kreator yang bersangkutan.

AI Bantu Bisnis Melayani Konsumen 24 Jam

Pengembangan ekosistem bisnis Meta juga mencakup layanan pelanggan berbasis AI. Salah satunya adalah Meta Business Agent, agen AI yang dapat disiapkan dalam hitungan menit untuk menangani pertanyaan, tindak lanjut, hingga pesanan pelanggan selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu.

Agen tersebut dapat menggunakan gaya komunikasi yang disesuaikan dengan karakter masing-masing brand. Platform Meta Business Agent juga terintegrasi dengan sejumlah sistem, termasuk Shopify, Zendesk, dan Shopee.

Secara global, teknologi ini telah digunakan oleh sekitar 1 juta bisnis melalui WhatsApp dan Messenger dan akan segera diperluas ke Instagram.

Di sisi lain, Meta juga menempatkan keamanan, kepercayaan, dan brand safety sebagai bagian penting dari ekosistem digital.

Sepanjang tahun lalu, Meta menghapus lebih dari 159 juta iklan yang terindikasi penipuan serta menonaktifkan 10,9 juta akun yang terhubung dengan sindikat penipuan di Facebook dan Instagram.

Pada Juni 2026, Meta juga bergabung dengan Microsoft, Coinbase, Starlink, serta sejumlah pihak lain untuk bekerja sama dengan US Department of Justice, Royal Thai Police, dan aparat penegak hukum global dalam memberantas operasi sindikat penipuan.

Operasi tersebut telah menindak lebih dari 1 juta aset daring, termasuk 1,4 juta akun, laman, dan grup di Facebook dan Instagram, 20.000 akun Microsoft, serta ribuan perangkat Starlink. Operasi tersebut juga menghasilkan 63 penangkapan oleh Royal Thai Police.

Upaya edukasi turut dilakukan melalui kampanye “One Step Ahead” yang telah menjangkau lebih dari 303 juta pengguna di 18 negara di Asia Pasifik.

Sementara itu, lebih dari 99 persen konten yang berada berdekatan dengan iklan di Facebook, Instagram, dan Threads telah diverifikasi secara independen sebagai brand-safe oleh mitra pihak ketiga.

Dorong UMKM dan AI yang Lebih Inklusif

Meta juga memperkuat investasi pada pelaku usaha kecil dan pengembangan AI yang inklusif. Salah satu inisiatifnya adalah Small Business Growth Academy yang diluncurkan pada Juni 2026.

Program tersebut membantu UMKM memahami dan memanfaatkan berbagai teknologi AI melalui lokakarya tatap muka, modul pembelajaran yang dapat diakses secara luas, serta pelatihan bersama mitra. Program ini pertama kali diluncurkan di 12 negara Asia Pasifik.

Di Thailand, program baru yang dijalankan bersama Kementerian Pertanian diperkirakan dapat mendukung lebih dari 5.000 petani.

Sementara itu, di Singapura, lebih dari 100 anggota komunitas tunanetra dan individu dengan gangguan penglihatan telah mencoba kacamata Ray-Ban Meta dan Oakley Meta. Mereka memanfaatkan fitur AI untuk membantu membaca menu, mengenali minuman, serta berinteraksi dengan karya seni dan foto.

Kacamata AI Meta sendiri telah diluncurkan di Jepang, Singapura, dan Korea Selatan pada 2026.

Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan arah pengembangan Meta di Asia Pasifik yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga membangun ekosistem digital yang menghubungkan konsumen, kreator, UMKM, brand, dan teknologi AI.

Dengan semakin kuatnya kebiasaan konsumen menemukan produk di media sosial, Meta melihat peluang untuk menjadikan platform digital bukan hanya sebagai ruang untuk membangun awareness, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan konsumen hingga akhirnya melakukan transaksi.

Baca Juga: Meta Tambah Pengawasan AI untuk Remaja, Mulai dari Notifikasi Self-Harm hingga Batasan Konten