Selanjutnya, dr. Kevin menyebut vitamin C sebagai salah satu asupan yang dapat diperhatikan selama menghadapi paparan abu vulkanik.

Ia menyarankan masyarakat memilih vitamin C non-asidik dengan kadar antioksidan yang tinggi.

"Usahakan pilih vitamin C yang non-asidik dengan kadar antioksidan yang tinggi, kamu bisa konsumsi setiap dua atau tiga hari sekali," ujar dr. Kevin.

Selain vitamin D dan vitamin C, dr. Kevin juga menyebut zinc atau glutathione sebagai pilihan tambahan yang bersifat opsional.

"Dan yang terakhir, opsional juga bisa kamu tambahkan antioksidan yang lebih kuat seperti zinc ataupun glutathione satu kali sehari untuk membantu mengurangi respons radang. Apalagi kalau misalnya daerah kamu abu vulkaniknya lagi tebal," tuturnya.

Meski demikian, penggunaan suplemen tetap perlu memperhatikan kebutuhan masing-masing individu. Konsumsi suplemen dalam jumlah atau dosis tertentu sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan.

Selain memperhatikan asupan nutrisi, dr. Kevin mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebutuhan cairan selama berada di wilayah yang terdampak abu vulkanik.

"Perhatikan juga jangan sampai kurang minum dan gunakan tetes mata secara reguler agar mata tidak perih," pesannya.

Paparan abu vulkanik juga dapat membuat mata terasa tidak nyaman. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kebersihan dan perlindungan mata, terutama ketika konsentrasi abu di lingkungan cukup tinggi.

Jika muncul keluhan kesehatan yang menetap atau semakin berat setelah terpapar abu vulkanik, sebaiknya segera mencari pertolongan tenaga kesehatan.

Baca Juga: Jakarta dan Sekitarnya Dikepung Abu Vulkanik, Kemenkes Beri Peringatan Keras, Hindari 3 Hal Ini