Menurunkan berat badan tidak selalu berjalan lurus. Setelah berhasil menurunkan beberapa kilogram, sebagian orang justru mendapati angka di timbangan berhenti bergerak meski pola makan dan olahraga masih dijalankan.

Kondisi tersebut dikenal sebagai stagnasi penurunan berat badan atau weight loss plateau. Namun, berat badan yang tidak kunjung turun bukan berarti tubuh sama sekali tidak lagi merespons pola diet yang dijalani.

Neelima Bisht, Kepala Ahli Gizi di Paras Health Gurugram, menjelaskan bahwa kebutuhan energi tubuh dapat ikut menurun seiring berkurangnya berat badan.

"Seiring turunnya berat badan, kebutuhan energi tubuh juga ikut berkurang," jelas Neelima.

Selain itu, perubahan nafsu makan dan adaptasi metabolik juga dapat memengaruhi besarnya defisit kalori. Akibatnya, defisit yang sebelumnya cukup untuk menurunkan berat badan bisa menjadi semakin kecil.

Dan, dikutip dari Times of India, Senin (7/9/2026), ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan ketika berat badan mulai stagnan meski pola makan dianggap sudah sehat. Berikut ulasannya.

Makanan Sehat Tetap Perlu Memperhatikan Porsi

Salah satu hal yang kerap terabaikan adalah anggapan bahwa makanan sehat bisa dikonsumsi tanpa memperhatikan jumlahnya.

Padahal, makanan rumahan tidak otomatis rendah kalori. Roti, nasi, dal atau olahan kacang-kacangan, paneer, kacang-kacangan, hingga ghee dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang. Namun, jumlah yang dikonsumsi tetap berpengaruh.

Tambahan satu potong roti, sesendok minyak, atau satu porsi nasi mungkin terlihat kecil. Namun, jika dilakukan berulang kali, tambahan tersebut dapat meningkatkan asupan energi harian dan akhirnya memperkecil defisit kalori.

Pedoman Diet untuk Masyarakat India 2024 juga merekomendasikan konsumsi sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta makanan minim proses. Di sisi lain, konsumsi gula, makanan olahan, dan jus buah perlu dibatasi.

Bukan Berarti Nasi Harus Dihindari

Upaya menurunkan berat badan sering kali membuat seseorang langsung menghindari nasi atau roti. Padahal, karbohidrat tidak selalu menjadi masalah utama.

Yang lebih penting adalah melihat komposisi makanan secara keseluruhan.

Piring yang didominasi poha, upma, nasi, atau roti, misalnya, bisa membuat porsi protein menjadi terlalu sedikit. Padahal, protein berperan dalam memberikan rasa kenyang sekaligus membantu mempertahankan massa otot selama proses penurunan berat badan.

Sumber protein seperti dal, chana, rajma, yogurt atau curd, paneer, telur, ikan, dan daging tanpa lemak dapat menjadi bagian dari menu sehari-hari.

Tujuannya bukan menjadikan karbohidrat sebagai musuh, melainkan membangun pola makan yang seimbang dan dapat dijalani dalam jangka panjang.

Dengan begitu, pola makan tidak hanya dirancang untuk beberapa hari atau minggu, tetapi dapat dipertahankan selama berbulan-bulan.

Baca Juga: Dada Ayam Vs Telur: Mana yang Lebih Tinggi Protein dan Baik untuk Diet?