Komunitas sesama orang tua sebenarnya telah menjadi salah satu sumber dukungan bagi keluarga anak neurodivergent. Namun, survei menunjukkan bahwa akses terhadap komunitas yang aktif dan suportif masih belum optimal.

Sebanyak 51% responden tercatat telah bergabung dalam komunitas orang tua anak neurodivergent, tetapi menilai aktivitas komunitas tersebut belum berjalan secara aktif. Sementara itu, 22% responden mengaku ingin bergabung dengan komunitas serupa, tetapi belum mengetahui ke mana harus mencari.

Founder Komunitas Berspektrum sekaligus orang tua anak neurodivergent, Nadira Saraswati, mengatakan bahwa kebutuhan orang tua bukan sekadar memiliki grup untuk bertukar informasi, tetapi ruang yang membuat mereka merasa dipahami.

“Apa yang paling menyentuh saya dari survei ini adalah kenyataan bahwa begitu banyak orang tua masih merasa sendirian, meski sudah bergabung dalam sebuah komunitas. Saya pernah berada di posisi itu. Ada malam-malam ketika saya mempertanyakan apakah saya sudah melakukan yang terbaik untuk anak saya, atau justru membuat keputusan yang salah,” ungkap Nadira.

Menurutnya, perasaan tersebut tidak selalu mudah disampaikan, bahkan kepada orang-orang terdekat. Karena itu, dukungan yang dibutuhkan orang tua perlu lebih dari sekadar wadah komunikasi.

“Karena itu, yang dibutuhkan orang tua bukan sekadar grup atau komunitas, melainkan ruang yang membuat mereka merasa dipahami tanpa harus terus-menerus menjelaskan kondisi anak maupun dirinya,” lanjutnya.

Nadira menilai, temuan survei tersebut semakin memperkuat pentingnya membangun ruang dukungan yang memungkinkan orang tua saling menguatkan dan berbagi pengalaman.

Temuan survei tersebut juga memperkuat pengamatan Atelier of Minds selama mendampingi keluarga anak neurodivergent. Tantangan terbesar tidak selalu berhenti pada proses diagnosis maupun terapi, tetapi bagaimana keterampilan yang dipelajari anak dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian, Founder Atelier of Minds, Chatrine Siswoyo, mengatakan, keberhasilan pendampingan seharusnya tidak hanya dilihat dari kemampuan anak selama mengikuti sesi terapi.

“Sejak awal, kami percaya bahwa keberhasilan bukan hanya diukur dari apa yang bisa dilakukan anak selama satu sesi terapi. Yang jauh lebih penting adalah apakah keterampilan itu benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya, di rumah, di sekolah, dan saat berinteraksi dengan orang lain,” ujar Chatrine.

Menurutnya, hasil survei menunjukkan bahwa harapan orang tua tidak berhenti pada perkembangan anak dalam jangka pendek. Mereka juga ingin melihat anak memiliki masa depan yang lebih mandiri.

“Temuan survei ini memperkuat bahwa harapan terbesar orang tua bukan sekadar melihat perkembangan jangka pendek, tetapi membangun masa depan yang lebih mandiri bagi anak mereka. Karena itulah Atelier of Minds hadir menjadi mitra bagi keluarga dalam perjalanan jangka panjang tersebut, melalui pendekatan yang menghubungkan terapi, pembelajaran, dan kehidupan nyata,” katanya.

Melalui survei 'Suara Orang Tua', kata Chatrine, Atelier of Minds berharap data tersebut dapat menjadi awal dari percakapan yang lebih luas mengenai dukungan bagi keluarga anak neurodivergent di Indonesia.

"Lebih jauh, temuan ini menunjukkan bahwa membangun ekosistem yang inklusif tidak cukup hanya dengan meningkatkan kesadaran mengenai neurodivergensi. Dibutuhkan pula akses terhadap layanan yang terjangkau, pendampingan profesional berbasis bukti, pendidikan yang mampu mengakomodasi kebutuhan anak, serta ruang bagi orang tua untuk mendapatkan dukungan secara berkelanjutan," tandas Chatrine.

"Dengan demikian, perhatian terhadap anak neurodivergent tidak hanya berfokus pada diagnosis dan intervensi, tetapi juga pada bagaimana anak dapat tumbuh, belajar, berinteraksi, dan pada akhirnya menjalani kehidupan yang lebih mandiri bersama dukungan keluarga dan lingkungan di sekitarnya," pungkas Chatrine.

Baca Juga: Perjalanan Menerima, Memahami, dan Bertumbuh Bersama Anak Neurodivergent ala Wina Natalia