Selain soal deteksi dan pencarian informasi, survei 'Suara Orang Tua' juga memperlihatkan besarnya beban emosional yang dirasakan keluarga anak neurodivergent.

Project Manager survei 'Suara Orang Tua', Ardhini Hapsari, memaparkan, sebanyak 76% responden mengaku pernah merasa kondisi anak merupakan kesalahan atau kegagalan mereka sebagai orang tua.

Pada saat yang sama, kekhawatiran terhadap masa depan anak menjadi emosi yang paling banyak dirasakan, juga oleh 76% responden.

Kelelahan atau parental burnout turut menjadi persoalan yang signifikan. Sebanyak 61% orang tua mengaku mengalaminya dalam perjalanan mendampingi anak.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan keluarga anak neurodivergent tidak berhenti pada diagnosis atau kebutuhan terapi. Di balik proses tersebut, orang tua juga harus berhadapan dengan tekanan emosional, rasa bersalah, kelelahan, serta kekhawatiran mengenai masa depan anak.

Lebih lanjut, Ardhini pun mengungkapkan tantangan lainnya terlihat dalam akses terhadap pendidikan inklusif. Meskipun konsep pendidikan inklusif semakin dikenal, penerapannya di lapangan dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan setiap anak.

Survei AOM menemukan bahwa 33% orang tua merasa guru di sekolah belum memahami kebutuhan anak mereka. Sementara itu, 24% menyatakan anak belum memperoleh akomodasi belajar yang sesuai, termasuk di sekolah yang secara resmi memiliki program inklusi.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara keberadaan program inklusi secara formal dengan praktik pendampingan yang benar-benar dirasakan oleh anak dan keluarganya.

"Menariknya, kekhawatiran orang tua tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan anak saat ini. Sebagian besar justru memikirkan bagaimana kehidupan anak ketika mereka dewasa," ujar Ardhini.

Sebanyak 78% responden mengkhawatirkan kemampuan anak untuk hidup mandiri saat dewasa. Sebanyak 65% mencemaskan peluang karier dan pekerjaan anak, sedangkan 64% mempertanyakan siapa yang akan mendampingi anak ketika mereka sebagai orang tua sudah tidak ada.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa bagi banyak keluarga, tujuan pendampingan anak neurodivergent bukan sekadar mencapai perkembangan dalam jangka pendek, tetapi memastikan anak memiliki bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri di masa depan.

Dan, di tengah kebutuhan pendampingan jangka panjang, persoalan akses layanan juga masih menjadi tantangan besar. Sebanyak 71% responden menyebut biaya sebagai hambatan terbesar untuk mendapatkan terapi secara berkelanjutan.

Temuan tersebut relatif konsisten antara responden di Jakarta maupun di luar Jabodetabek. Artinya, persoalan keterjangkauan layanan tidak hanya menjadi masalah keluarga yang tinggal di wilayah perkotaan, tetapi juga dirasakan oleh keluarga di berbagai daerah di Indonesia.

"Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri mengingat kebutuhan setiap anak dapat berbeda dan pendampingan sering kali membutuhkan proses yang panjang serta berkelanjutan," tukas Ardhini.

Baca Juga: Memahami Anak Neurodivergent, Kunci Pendampingan Tanpa Ekspektasi Instan