Finlandia kembali dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia dalam World Happiness Report. Di balik pencapaian tersebut, para ahli menilai kebahagiaan masyarakat Finlandia tidak hanya ditopang oleh sistem sosial yang kuat, tetapi juga kebiasaan sederhana yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari.

Dikutip dari HuffPost pada Rabu (08/07/2026), sejumlah pakar kesehatan mental dan psikologi di Finlandia mengungkap beberapa kebiasaan yang berkontribusi terhadap tingginya tingkat kepuasan hidup masyarakat. Menariknya, kebiasaan tersebut dapat diterapkan oleh siapa saja.

1. Tidak Memaksakan Diri Selalu Terlihat Bahagia

Salah satu kebiasaan masyarakat Finlandia adalah bersikap jujur terhadap kondisi emosinya. Direktur Strategic Affairs di MIELI Mental Health Finland, Meri Larivaara, mengatakan warga Finlandia tidak merasa harus selalu menjawab "baik-baik saja" ketika ditanya kabarnya.

Baca Juga: 3 Kalimat ‘Magic’ yang Diucapkan Masyarakat Finlandia Agar Lebih Bahagia di Tempat Kerja, Kata CEO!

"Di Finlandia, ada toleransi yang lebih besar untuk mengatakan, 'Saya sedang tidak baik-baik saja' atau 'Saya tidak sedang merasa baik'," ujar Larivaara.

Menurutnya, keterbukaan dalam mengekspresikan emosi membantu seseorang menghindari kebiasaan memendam perasaan. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa menekan emosi dapat mengurangi kedekatan sosial dan berdampak buruk terhadap kesehatan.

2. Menjaga Keseimbangan antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Masyarakat Finlandia juga dikenal memiliki budaya work-life balance yang kuat. Jam kerja yang relatif wajar memberi ruang untuk beristirahat, merawat diri, menghabiskan waktu bersama keluarga, maupun menjalani hobi.

Profesor Psikologi dari University of Oulu, Mirka Hintsanen, menyebut waktu luang membuat masyarakat memiliki kesempatan menikmati aktivitas yang mereka sukai.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Tampere University, Juho Saari, menambahkan sebagian besar warga Finlandia tidak menghabiskan waktu lama untuk perjalanan menuju tempat kerja sehingga memiliki lebih banyak waktu setiap hari.

Baca Juga: Jadi Negara Paling Bahagia di Dunia, Ini 3 Prinsip Hidup ala Orang Finlandia yang Mungkin Bisa Kamu Terapkan!

3. Dekat dengan Alam

Hubungan yang erat dengan alam menjadi salah satu kunci kebahagiaan masyarakat Finlandia. Negara tersebut memiliki aturan Everyman's Right yang memungkinkan masyarakat menikmati kawasan hutan, danau, maupun pesisir secara bebas dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Melalui aturan itu, masyarakat dapat berkemah, mendaki, berenang, memetik buah beri, mencari jamur, hingga bermain ski di berbagai ruang publik tanpa biaya.

Hintsanen mengatakan hampir di seluruh wilayah Finlandia masyarakat memiliki akses mudah ke alam.

"Ada alam di mana-mana," katanya.

Menurut berbagai penelitian, berada di alam terbuka dapat membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.

4. Terus Belajar Hal Baru

Belajar tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan untuk bekerja, tetapi juga sebagai cara menjaga kesehatan mental. Larivaara mengatakan masyarakat Finlandia terbiasa mencoba keterampilan baru, mulai dari memasak, membuat kerajinan, hingga mengikuti kelas hobi.

Saari menambahkan tersedia banyak komunitas yang menawarkan berbagai aktivitas, seperti yoga hingga kelas membuat keramik, dengan biaya yang relatif terjangkau.

5. Menjaga Hubungan Sosial

Selain menghargai waktu sendiri, masyarakat Finlandia juga membangun hubungan sosial yang kuat. Tingginya rasa saling percaya antarmasyarakat menjadi salah satu faktor yang mendukung kepuasan hidup.

Saari menjelaskan berbagai penelitian menunjukkan bahwa mengurangi rasa kesepian merupakan salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan kebahagiaan. Karena itu, meluangkan waktu bersama keluarga dan teman dekat menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Studi: Masa Muda Gen Z Tak Lagi Jadi Fase Hidup Paling Bahagia, Mengapa?

6. Bahagia Tak Selalu Berarti Euforia

Larivaara menilai konsep kebahagiaan di Finlandia berbeda dengan anggapan yang identik dengan perasaan gembira atau euforia.

"Konsep kami lebih seperti perasaan puas yang terus-menerus terhadap kehidupan dan apa yang dimiliki," ujarnya.

Meski demikian, Mirka Hintsanen mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak sepenuhnya bergantung pada individu. Menurutnya, lingkungan, kondisi hidup, hingga kebijakan sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk tingkat kepuasan hidup seseorang.

"Kita tidak bisa menjadikan kebahagiaan hanya sebagai tanggung jawab individu. Penting untuk diingat bahwa ada banyak faktor lain di luar diri seseorang," katanya.