Sebanyak 33 pekebun sawit, penyuluh, dan aparatur sipil negara (ASN) asal Kabupaten Luwu Utara mengikuti Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) guna memperkuat tata kelola perkebunan yang lebih baik dan berkelanjutan.

Pelatihan yang berlangsung di Makassar pada 24-30 Juli 2026 ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian, serta diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY).

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam menjawab berbagai tantangan industri sawit, terutama di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap praktik perkebunan yang berkelanjutan.

Baca Juga: BPDP, Ditjenbun, dan PT RPN Perkuat Kompetensi Pekebun Sawit Muara Enim Lewat SDMP 2026

"Keberhasilan sawit di masa depan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau pemupukan, tetapi juga oleh SDM yang mampu beradaptasi terhadap perubahan, memahami tata kelola yang baik, dan menerapkan praktik perkebunan berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Olenka pada Senin (27/07/2026).

Menurut Idum, pelatihan implementasi ISPO tidak hanya membahas aspek teknis budidaya, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai berbagai persyaratan sertifikasi, seperti legalitas kebun, perlindungan lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga pencatatan administrasi usaha tani.

Ia berharap ilmu yang diperoleh peserta dapat diterapkan langsung di lapangan dan menjadi bekal untuk mendorong perubahan di kalangan pekebun sawit lainnya.

Baca Juga: BPDP Dukung Peluncuran PUG, Dorong Industri Sawit yang Lebih Inklusif

"Kami berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan benar-benar dipraktikkan di lapangan sehingga petani sawit menjadi lebih mandiri, profesional, dan mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Nurul Fitriani Alimuddin, menegaskan bahwa pelatihan implementasi ISPO harus memberikan dampak nyata terhadap pola pengelolaan kebun masyarakat.

Menurutnya, Kabupaten Luwu Utara yang memiliki areal sawit terluas di Sulawesi Selatan perlu menjadi contoh dalam penerapan tata kelola perkebunan yang baik.

"Luwu Utara merupakan daerah dengan areal sawit terluas di Sulawesi Selatan. Karena itu, pekebunnya harus mulai naik kelas melalui penerapan tata kelola yang lebih baik, baik melalui budidaya maupun implementasi ISPO," ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan praktik budidaya sesuai standar diharapkan mampu meningkatkan kualitas tandan buah segar (TBS) dan rendemen minyak sawit, yang selama ini masih menjadi tantangan bagi pekebun di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara, Pasalongan, menilai pelatihan ini menjadi langkah penting untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi pekebun, mulai dari produktivitas hingga penguatan citra industri sawit di tengah masyarakat.

Baca Juga: AKPY, BPDP, dan Ditjenbun Tekankan Pentingnya Panen dan Pascapanen untuk Dongkrak Produktivitas Sawit

Menurutnya, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan diperlukan agar sektor sawit mampu tumbuh secara produktif, berkelanjutan, dan sesuai dengan standar nasional.

Pelatihan Implementasi ISPO ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat daya saing sawit rakyat melalui peningkatan kapasitas pekebun. Dengan semakin banyaknya pekebun yang memahami prinsip-prinsip ISPO, diharapkan tata kelola perkebunan sawit rakyat di Indonesia dapat terus meningkat sekaligus memenuhi tuntutan pasar yang semakin menekankan aspek keberlanjutan.