Industri energi surya Indonesia mendapat suntikan baru dari kerja sama perusahaan lokal dengan perusahaan teknologi asal Swedia. PT Metalogika Rekayasa Sistem (Metalogika) dan Midsummer AB sepakat mengembangkan manufaktur sel surya film tipis serta panel fotovoltaik ringan di Indonesia.

Keduanya menandatangani perjanjian kerangka investasi dan industrialisasi di Järfälla, Swedia, pada Kamis (10/9/2026). Kerja sama tersebut menjadi pijakan awal untuk membangun fasilitas produksi dengan kapasitas 20 megawatt (MW) per tahun.

Yang menarik, kapasitas tersebut bukan menjadi target akhir. Metalogika dan Midsummer membuka peluang peningkatan kapasitas hingga 200 MW per tahun setelah fasilitas tahap awal beroperasi secara komersial.

Fasilitas tersebut nantinya memproduksi panel surya film tipis dan fleksibel untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia sekaligus membuka peluang ekspansi ke pasar internasional.

Dalam kerja sama ini, Midsummer akan memasok teknologi dan mesin produksi serta memberikan dukungan manufaktur dan layanan teknis untuk pembangunan fasilitas.

Kedua perusahaan juga berencana membentuk perusahaan patungan atau joint venture yang akan bergerak di bidang BIPV OEM di Indonesia.

CEO Midsummer AB Eric Jaremalm mengatakan proyek tersebut dirancang sebagai kemitraan industri jangka panjang. Menurutnya, pengalaman teknologi dan manufaktur Midsummer akan dipadukan dengan kemampuan industrialisasi serta pemahaman pasar yang dimiliki Metalogika.

“Ambisi kami adalah membangun kemitraan industri jangka panjang di Indonesia yang menggabungkan pengalaman teknologi dan manufaktur Midsummer dengan kemampuan industrialisasi dan pemahaman pasar yang dimiliki Metalogika,” ujar Jaremalm.

Ia mengatakan kapasitas awal 20 MW dipilih sebagai fondasi sebelum perusahaan mengevaluasi peluang pengembangan fasilitas dengan kapasitas yang lebih besar.

Tak Sekadar Bangun Pabrik

Direktur Utama Metalogika Firrisky Nurtomo mengatakan kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan manufaktur energi surya berteknologi tinggi di dalam negeri.

“Tujuan kami adalah membangun kapasitas manufaktur panel surya ringan yang inovatif di Indonesia sekaligus mendorong terbentuknya ekosistem industri yang kuat dan berkelanjutan,” kata Firrisky.

Menurutnya, pengembangan manufaktur lokal juga berkaitan dengan upaya Indonesia memperkuat ketahanan dan kemandirian energi melalui pemanfaatan energi terbarukan.

Fasilitas tahap awal tersebut nantinya menjadi dasar untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membuka peluang peningkatan kandungan lokal. Pasar yang dibidik juga tidak berhenti di Indonesia, tetapi berpotensi diperluas ke kawasan regional.

Firrisky turut mengaitkan rencana tersebut dengan program pengembangan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas total 100 GWp yang baru diluncurkan pemerintah.

“Fasilitas tahap awal ini merupakan fondasi bagi pengembangan kapasitas manufaktur yang lebih besar di masa depan, dengan potensi peningkatan kandungan lokal dan perluasan pasar ke tingkat regional,” ujarnya.

Indonesia sendiri dinilai memiliki modal besar untuk pengembangan energi surya. Letaknya di kawasan khatulistiwa membuat Indonesia memperoleh paparan sinar matahari yang relatif tinggi sepanjang tahun.

Dengan populasi sekitar 285 juta jiwa dan posisi sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia juga menjadi pasar yang menarik bagi pengembangan energi terbarukan.

Meski demikian, pembangunan fasilitas manufaktur tersebut masih membutuhkan sejumlah tahapan. Metalogika dan Midsummer akan melanjutkan pembentukan perusahaan patungan, finalisasi struktur investasi dan tata kelola, pengurusan perizinan serta insentif, hingga pengaturan pembiayaan proyek.

Setelah seluruh persyaratan yang disepakati terpenuhi, perusahaan patungan akan melakukan pengadaan mesin produksi dan memulai tahapan pengembangan fasilitas.

Dalam jangka panjang, kemitraan tersebut diarahkan untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis manufaktur dalam jaringan produksi global Midsummer sekaligus memperkuat rantai pasok industri energi surya di Asia Tenggara.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia Yayan Ganda Hayat Mulyana menilai kerja sama tersebut memiliki arti lebih luas dari sekadar hubungan bisnis kedua perusahaan.

Menurutnya, pengembangan energi surya dapat membantu Indonesia melakukan diversifikasi sumber energi, mengurangi ketergantungan pada energi konvensional, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

“Kerja sama ini tidak hanya menandai dimulainya kemitraan bisnis, tetapi juga mencerminkan komitmen bersama untuk mendorong pengembangan energi surya serta memperkuat transisi Indonesia menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” kata Yayan.

Ia berharap kolaborasi Indonesia dan Swedia tersebut dapat menghasilkan pengembangan teknologi energi surya yang memberikan manfaat bagi industri dan perekonomian Indonesia.

Kerja sama Metalogika dan Midsummer pun menjadi salah satu langkah yang mempertemukan kepentingan pengembangan industri manufaktur dalam negeri dengan kebutuhan Indonesia untuk memperbesar pemanfaatan energi terbarukan.