2. Phaedo karya Plato

Dialog Plato ini merekam jam-jam terakhir Socrates sebelum ia menjalani hukuman mati. Namun alih-alih dipenuhi kesedihan, percakapan yang terjadi justru terasa jernih dan penuh ketenangan intelektual.

Dalam dialog ini, Socrates dan murid-muridnya membahas jiwa, kematian, dan arti sebenarnya dari praktik filsafat. Socrates memandang kematian bukan sebagai tragedi, melainkan ujian terakhir terhadap keyakinan yang selama ini ia ajarkan.

Yang menarik, buku ini tidak memaksa pembaca untuk setuju. Argumen-argumen Socrates berkembang perlahan, membuka ruang diskusi dan perbedaan pendapat.

Bagi pembaca masa kini, gagasan bahwa memahami kematian justru dapat membuat kita hidup lebih jujur terasa mengejutkan sekaligus relevan.

3. On the Shortness karya Seneca

Esai filsuf Romawi Seneca terasa sangat modern, seolah ditulis untuk zaman yang sibuk seperti sekarang. Pesan utamanya sederhana, namun menohok, yakni hidup sebenarnya tidak singkat, kitalah yang membuatnya terasa singkat.

Seneca mengkritik kehidupan yang habis oleh kesibukan tanpa refleksi, ambisi tanpa arah, dan perhatian yang tercecer ke hal-hal sepele.

Ia tidak menggurui, melainkan mendiagnosis kebiasaan manusia membuang waktu.

Menurutnya, masalah terbesar bukan pada kesenangan, tetapi pada penundaan. Kita terus menunda hidup sampai suatu hari sadar bahwa waktu sudah habis.

Buku ini membuat pembaca mempertanyakan ulang arti produktivitas dan bagaimana kita menggunakan perhatian, sumber daya paling terbatas yang kita miliki.

Baca Juga: 10 Buku Bisnis yang Membuka Wawasan dan Strategi Baru di Dunia Usaha