Minyak kelapa sawit menjadi salah satu komoditas pertanian paling penting di dunia. Bahan baku ini tidak hanya digunakan untuk minyak goreng, tetapi juga diolah menjadi margarin, kosmetik, sabun, produk perawatan tubuh, hingga bahan bakar nabati (biofuel). Tingginya permintaan membuat sejumlah negara terus meningkatkan produksi, sementara Indonesia masih mempertahankan posisinya sebagai produsen terbesar di dunia.

Berdasarkan data United States Department of Agriculture (USDA) yang dikutip Kamis (16/07/2026) dan berbagai publikasi industri minyak sawit global, Indonesia dan Malaysia masih mendominasi produksi minyak kelapa sawit dunia dengan kontribusi lebih dari 80 persen terhadap total pasokan global. Dominasi tersebut ditopang oleh luasnya lahan perkebunan, iklim tropis yang mendukung, serta tingginya produktivitas kedua negara.

Berkat iklim tropis, curah hujan yang tinggi, dan lahan perkebunan yang luas, Indonesia mampu mempertahankan posisinya sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

Baca Juga: INNOPROM 2026: BPDP Dukung Penguatan Kemitraan Sawit Indonesia dan Rusia

Lalu, negara mana saja yang menjadi penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia? Berikut daftarnya.

1. Indonesia

Indonesia menempati posisi pertama dengan produksi sekitar 46 juta ton minyak kelapa sawit per tahun atau sekitar 57 persen dari total pasokan dunia. Perkebunan sawit tersebar di berbagai wilayah, terutama di Riau, Sumatra Utara, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Selain menjadi komoditas ekspor andalan, produksi sawit Indonesia juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, termasuk program biodiesel yang terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

2. Malaysia

Malaysia berada di posisi kedua dengan produksi sekitar 20 juta ton per tahun. Negara ini dikenal memiliki industri sawit yang modern dan efisien, didukung oleh riset teknologi serta sistem pengolahan yang maju.

Baca Juga: BPDP, Ditjenbun, dan AKPY Gelar Pelatihan Budidaya Sawit ke Pekebun Luwu Timur

Bersama Indonesia, Malaysia menjadi pemasok utama minyak sawit dunia dan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan berbagai negara, mulai dari India, China, hingga kawasan Eropa.

3. Thailand

Thailand menjadi produsen minyak kelapa sawit terbesar ketiga di dunia dengan produksi sekitar 3,3 juta ton setiap tahun.

Berbeda dengan Indonesia dan Malaysia yang memiliki banyak perkebunan skala besar, industri sawit Thailand didominasi oleh petani swadaya. Sebagian besar hasil produksinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng dan biodiesel di dalam negeri.

4. Kolombia

Kolombia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di kawasan Amerika Latin dengan produksi sekitar 2 juta ton per tahun.

Letaknya yang strategis membuat Kolombia memiliki akses lebih dekat ke pasar Amerika Serikat dan Eropa. Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini juga terus mendorong praktik budidaya sawit yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga: B50 Resmi Berlaku, Mentan Pastikan Pasokan Sawit Aman dan Impor Solar Berhenti

5. Nigeria

Nigeria menjadi produsen minyak kelapa sawit terbesar di Afrika dengan produksi sekitar 1,5 juta ton per tahun.

Kawasan Afrika Barat diketahui merupakan daerah asal tanaman kelapa sawit sebelum kemudian dibudidayakan secara luas di Asia Tenggara. Meski memiliki sejarah panjang, produktivitas perkebunan sawit Nigeria masih relatif rendah karena sebagian besar dikelola secara tradisional.

6. Papua Nugini

Papua Nugini termasuk salah satu produsen utama di kawasan Pasifik. Negara ini memiliki tingkat sertifikasi minyak sawit berkelanjutan yang tinggi sehingga produknya banyak diminati pasar internasional.

Keunggulan tersebut menjadikan Papua Nugini sebagai salah satu pemasok minyak sawit untuk pasar yang menerapkan standar keberlanjutan yang ketat.

Baca Juga: BPDP Tampilkan Produk UMKM Turunan Sawit di Pekan Inovasi dan Investasi Sumut 2026

7. Guatemala

Meski wilayahnya tidak sebesar Indonesia maupun Malaysia, Guatemala dikenal memiliki produktivitas perkebunan sawit yang tinggi.

Teknologi budidaya modern, penggunaan bibit unggul, serta kondisi iklim yang mendukung membuat negara ini mampu menghasilkan minyak sawit dengan efisiensi tinggi per hektare.

8. Honduras

Honduras menjadi salah satu pemain penting industri sawit di Amerika Tengah. Komoditas ini berkontribusi terhadap perekonomian nasional sekaligus menjadi sumber mata pencaharian masyarakat di wilayah pedesaan.

Sebagian besar produksi minyak sawit Honduras dipasarkan ke negara-negara di kawasan Amerika.

9. Pantai Gading

Pantai Gading atau Côte d'Ivoire merupakan salah satu produsen utama minyak kelapa sawit di Afrika Barat.

Pemerintah setempat terus mendorong modernisasi industri sawit melalui program peremajaan kebun dan peningkatan kapasitas pabrik pengolahan guna meningkatkan produktivitas.

10. Brasil

Brasil melengkapi daftar negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Produksi sawit di negara ini terus berkembang, terutama di Negara Bagian Pará.

Selain memenuhi kebutuhan industri pangan, Brasil juga mulai mengembangkan minyak sawit sebagai salah satu bahan baku energi terbarukan, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Mengapa minyak kelapa sawit sangat dibutuhkan?

Permintaan minyak kelapa sawit terus meningkat karena tanaman ini memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya, seperti kedelai, bunga matahari, maupun kanola. Pada luasan lahan yang sama, kelapa sawit mampu menghasilkan minyak dalam jumlah lebih besar dibandingkan komoditas tersebut.

Selain itu, minyak sawit memiliki karakter yang fleksibel sehingga dapat dimanfaatkan di berbagai sektor industri, mulai dari bahan pangan seperti minyak goreng dan margarin, produk kecantikan dan perawatan tubuh, hingga biofuel yang kini semakin banyak digunakan sebagai sumber energi alternatif.

Dengan produktivitas yang tinggi dan pemanfaatan yang luas, minyak kelapa sawit masih menjadi salah satu komoditas strategis di pasar global. Hingga saat ini, Indonesia tetap menjadi produsen terbesar dunia, meski sejumlah negara terus berupaya meningkatkan kapasitas produksinya. Data produksi tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan industri dan pembaruan statistik dari lembaga internasional.