Di tengah wacana pemerintah untuk mengoptimalkan pengembangan perkebunan kelapa sawit skala luas, termasuk di Papua, Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Dr. Ir. Hariyadi, M.S., mengingatkan pentingnya memaksimalkan potensi lahan yang sudah ada sebelum membuka areal baru.
Menurut Prof. Hariyadi, peningkatan produktivitas atau intensifikasi masih menjadi pekerjaan rumah terbesar sektor sawit nasional. Karena itu, ia menilai fokus pengembangan sebaiknya diarahkan pada perbaikan kualitas budidaya, penggunaan benih unggul, serta pemenuhan kebutuhan sarana produksi seperti pupuk dan pestisida.
Baca Juga: Menangis Nonton Film Pesta Babi, Megawati: Itu Benar Adanya, Hutan Jadi Sawit
"Saya lebih setuju intensifikasi daripada ekstensifikasi. Yang perlu didorong sekarang adalah penyediaan input produksi, terutama pupuk, pestisida, dan benih unggul bersertifikat," ujarnya dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada Rabu (24/06/2026).
Pakar agronomi itu menjelaskan, persoalan mendasar yang masih dihadapi perkebunan sawit rakyat adalah rendahnya penggunaan benih unggul. Padahal, kualitas benih menjadi salah satu faktor penentu produktivitas tanaman dalam jangka panjang.
Ia memperkirakan masih terdapat 30 hingga 40 persen kebun sawit yang belum menggunakan benih unggul bersertifikat. Kondisi tersebut membuat produktivitas perkebunan rakyat belum mampu mencapai potensi maksimal yang sebenarnya dimiliki.
Baca Juga: Teknologi Pengendalian Hama Jadi Kunci Produktivitas Sawit
Menurutnya, pembukaan lahan baru tidak akan memberikan hasil yang optimal apabila berbagai kebutuhan dasar tersebut belum terpenuhi.
"Kalau lahan diperluas tetapi pupuknya tidak tersedia dan benihnya belum siap, hasilnya tentu tidak akan maksimal. Kita hanya membuka lahan baru tanpa benar-benar meningkatkan produktivitas," katanya.
Lebih lanjut, Prof. Hariyadi menyoroti masih rendahnya produktivitas kebun sawit rakyat dibandingkan potensi yang seharusnya dapat dicapai. Saat ini, produktivitas perkebunan rakyat diperkirakan masih berada di bawah 60 persen dari potensi optimalnya.
Padahal, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan produksi tanpa harus menambah luas areal secara signifikan. Caranya adalah dengan memperbaiki praktik budidaya, mempercepat penggunaan benih unggul, serta memastikan petani mendapatkan akses terhadap pupuk dan sarana produksi lainnya.
"Potensi yang ada sebenarnya masih sangat besar. Karena itu, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana produktivitas tersebut bisa ditingkatkan. Kuncinya ada pada benih unggul dan dukungan input produksi, terutama pupuk," jelasnya.
Baca Juga: 7 Fakta Film Dokumenter Pesta Babi: Soroti Isu Konflik Agraria di Papua Selatan
Baginya, pendekatan intensifikasi juga sejalan dengan prinsip perkebunan berkelanjutan yang kini menjadi tuntutan pasar global. Dengan meningkatkan hasil dari lahan yang sudah ada, kebutuhan produksi dapat dipenuhi tanpa menimbulkan tekanan tambahan terhadap pembukaan lahan baru.
Oleh karena itu, ia berpandangan bahwa peningkatan produktivitas perkebunan rakyat perlu ditempatkan sebagai prioritas utama dalam strategi pembangunan industri sawit nasional ke depan.
"Masih banyak ruang untuk meningkatkan hasil dari kebun yang sudah ada. Itu yang seharusnya dioptimalkan terlebih dahulu sebelum kita berbicara mengenai perluasan areal perkebunan," tutupnya.