6. Kurangi produk tertentu jika kulit mulai mengalami iritasi
Beberapa produk yang sebelumnya biasa digunakan mungkin justru memicu iritasi ketika wajah lebih sering tertutup masker.
Jika kulit mulai terasa perih, merah, gatal, atau mengalami iritasi, Dr. Kroshinsky menyarankan untuk mengurangi penggunaan produk yang berpotensi memperburuk kondisi tersebut.
Beberapa di antaranya adalah produk asam salisilat yang tidak dibilas (leave-on), retinoid yang dioleskan pada wajah, serta aftershave.
7. Gunakan masker dengan ukuran yang pas dan nyaman
Masker sebaiknya menutupi hidung, sisi wajah, dan bawah dagu dengan rapat, tetapi tetap terasa nyaman. Hindari masker yang terlalu ketat maupun terlalu longgar.
Masker yang terlalu ketat dapat meningkatkan gesekan dan mengiritasi kulit. Sebaliknya, masker yang terlalu longgar atau sering bergeser membuat Anda lebih sering menyentuh dan membetulkan posisinya. Kebiasaan tersebut dapat memindahkan kuman dari tangan ke masker maupun wajah.
Untuk masker kain, pilih bahan yang lembut dan memiliki sirkulasi udara baik, seperti katun, pada bagian yang bersentuhan langsung dengan kulit. Sebaiknya hindari bahan sintetis seperti nilon, poliester, dan rayon pada lapisan dalam karena lebih berisiko menyebabkan iritasi dan jerawat.
Masker yang pas, nyaman, dan terdiri dari setidaknya dua lapis kain juga dapat membantu memberikan perlindungan dari virus saluran pernapasan.
Untuk mengetahui cara menggunakan berbagai jenis masker dan respirator dengan tepat, termasuk masker sekali pakai, masker kain, maupun respirator N95, Anda dapat merujuk pada panduan CDC mengenai jenis masker dan respirator.
8. Beri waktu bagi wajah untuk beristirahat
Jika memungkinkan, istirahatkan wajah dari masker selama sekitar 15 menit setiap empat jam sekali. Kebiasaan ini dapat membantu memberikan kesempatan bagi kulit untuk mendapatkan udara dan mengurangi tekanan serta gesekan akibat penggunaan masker dalam waktu lama.
Pastikan Anda melepas masker hanya ketika berada di tempat yang aman dan memungkinkan untuk melakukannya.
9. Cegah rasa nyeri di belakang telinga
Penggunaan masker dalam waktu lama juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau nyeri di belakang telinga akibat tekanan tali masker.
Untuk mengurangi tekanan tersebut, dokter spesialis kulit bersertifikat Daniela Kroshinsky, MD, MPH, FAAD, menyarankan untuk menggunakan masker dengan jenis tali pengikat atau tali cantolan telinga yang berbeda secara bergantian setiap hari.
10. Jaga kebersihan masker dan jangan gunakan masker yang basah atau kotor
Masker kain sebaiknya dicuci setelah digunakan, sementara masker bedah sekali pakai perlu dibuang setelah satu kali pemakaian. Langkah ini tidak hanya membantu mengurangi risiko penyakit, tetapi juga menjaga kulit dari paparan minyak, sisa makeup, dan partikel lain yang menumpuk pada masker.
Masker kain dapat dicuci menggunakan mesin cuci maupun dengan tangan. Keduanya efektif untuk menghilangkan minyak, sisa makeup, dan berbagai partikel. Ikuti petunjuk pencucian yang tercantum pada masker, gunakan air panas kecuali terdapat petunjuk berbeda, serta pilih detergen pakaian yang bebas pewangi dan hipoalergenik.
Setelah dicuci, periksa kembali bentuk masker. Jika masker sudah berubah bentuk sehingga tidak lagi pas dan nyaman, kemampuan perlindungannya dapat berkurang.
Bagi pengguna respirator N95 atau KN95, CDC menyarankan untuk memeriksa petunjuk produsen guna mengetahui berapa lama masker dapat digunakan sebelum harus dibuang. Respirator juga sebaiknya diganti apabila talinya sudah melar dan tidak lagi dapat membuat masker terpasang rapat pada wajah.
Selain itu, jangan gunakan masker atau respirator yang sudah basah atau kotor. Kondisi tersebut dapat menurunkan kemampuan perlindungan sekaligus meningkatkan risiko iritasi kulit. Jika masker bedah, N95, atau KN95 menjadi basah atau kotor, segera ganti dengan yang bersih.
Sementara itu, masker kain yang basah atau kotor perlu diganti dengan masker bersih. Untuk mencegah pertumbuhan jamur, CDC menyarankan masker kain yang kotor atau basah disimpan sementara di dalam kantong plastik tertutup hingga dapat dicuci.
Baca Juga: Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Bagi Kesehatan, Ini Kata Dokter