Di luar Jepang, Australia menjadi salah satu produsen wagyu terbesar, dengan kontribusi sekitar 18 persen dari total produksi global, disusul Amerika Serikat dan Selandia Baru.
Sejumlah negara lain seperti Kanada, Inggris, Jerman, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura juga mengembangkan wagyu dalam skala lebih kecil, baik melalui pemeliharaan sapi wagyu maupun persilangan.
Kondisi tersebut membuat konsumen perlu lebih teliti ketika menemukan produk yang menggunakan istilah wagyu, terlebih jika ditawarkan dengan harga premium. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memastikan asal-usul daging melalui dokumen resmi.
Prof. Ronny kemudian menjelaskan, wagyu Jepang asli dapat diidentifikasi melalui sertifikat resmi yang diterbitkan oleh Japan Meat Grading Association (JMGA). Sertifikat tersebut umumnya memuat sejumlah informasi penting, antara lain nomor identifikasi sapi, asal prefektur, grade daging seperti A3 hingga A5, serta nilai BMS.
“Bahkan jika diamati lebih dalam lagi dengan memperhatikan nomor sertifikat 10 digit, kita dapat melacak hingga ke peternakan asalnya,” imbuhnya.
Ia juga mengingatkan konsumen agar tidak mudah terkecoh dengan istilah yang terdengar premium, tetapi sebenarnya tidak menunjukkan bahwa daging tersebut berasal dari Jepang.
“Pada sertifikat tersebut, label ‘A5’ hanya sah jika daging benar-benar dinilai di Jepang. Jadi, istilah ‘A5 style’ atau ‘Kobe style’ di luar Jepang hanya untuk marketing sekaligus menandakan bahwa itu tidak berasal dari Jepang,” tegas Prof. Ronny.
Dengan demikian, istilah wagyu tidak selalu identik dengan wagyu Jepang. Daging yang berasal dari sapi wagyu yang dipelihara di Australia, Amerika Serikat, atau negara lain tetap dapat memiliki karakteristik wagyu, tetapi asal-usul, genetika, sistem pemeliharaan, hingga standar grading-nya dapat berbeda.
Karena itu, kata Prof. Ronny, konsumen di Indonesia disarankan tidak hanya mengandalkan foto, nama menu, atau klaim kualitas ketika membeli wagyu dengan harga tinggi. Pemeriksaan sertifikat dan informasi asal produk menjadi langkah penting untuk memastikan apa yang sebenarnya dibeli.
“Pelajari istilah ‘palsu’ seperti ‘style’ dan ‘inspired’. Belilah ke distributor resmi dan periksa sertifikat JMGA-nya, jangan hanya dari foto. Semoga konsumen kita bisa menikmati wagyu tanpa tertipu klaim palsu itu,” pesan Prof. Ronny.
Baca Juga: Cara Menangani dan Menyimpan Daging Kurban yang Baik dan Benar