Growthmates, daging wagyu kerap identik dengan harga mahal, kualitas premium, dan marbling yang melimpah. Namun, label wagyu pada menu restoran atau kemasan produk tidak otomatis berarti daging tersebut berasal dari Jepang, negara asal wagyu.
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, memaparkan, wagyu yang beredar di pasar internasional, termasuk Indonesia, memiliki asal dan kualitas yang beragam. Menurutnya, wagyu yang diproduksi di Jepang memiliki karakteristik berbeda dengan daging dari sapi wagyu yang dikembangkan di negara lain.
“Misalnya, banyak restoran di Amerika yang menawarkan menu daging wagyu, tetapi belum tentu dagingnya berasal dari Jepang. Sebenarnya, sebagian besar daging wagyu yang beredar di Amerika tidak diimpor dari Jepang, melainkan dari sapi yang dipelihara di sana,” paparnya, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Jumat (9/10/2026).
Menurut Prof. Ronny, wagyu yang diproduksi di luar Jepang umumnya berasal dari sapi hasil persilangan. Salah satu persilangan yang banyak digunakan adalah antara sapi wagyu dan angus dengan komposisi masing-masing sekitar 50 persen. Sistem pemeliharaan serta standar penilaiannya pun tidak selalu sama dengan yang diterapkan di Jepang.
“Di Amerika, sistem penilaian daging berbeda dari Jepang, menggunakan standar USDA Prime/Choice tanpa spesifikasi wagyu. Sapi wagyu di Amerika lebih ‘berdaging’ dibandingkan di Jepang,” jelasnya.
Salah satu karakteristik yang membuat wagyu Jepang begitu dikenal adalah kandungan lemak intramuskular atau marbling yang tinggi. Lemak yang tersebar di dalam jaringan otot tersebut akan meleleh ketika daging dipanggang, sehingga menghasilkan tekstur, aroma, dan rasa yang khas.
Di Jepang, kualitas wagyu juga dinilai melalui sistem grading yang ketat. Penilaian mencakup yield grade A–C, quality grade 1–5, serta Beef Marbling Standard (BMS) dengan skala 1–12. Grade A5 dengan BMS 10–12 berada di jajaran kualitas tertinggi.
“Daging wagyu Jepang asli harganya sangat mahal, minimal US$200 per kg untuk steak. Variasi premium harganya bisa lebih tinggi karena proses pemeliharaan yang ketat, genetik murni, dan sistem grading resmi A5 yang hanya bisa dicapai di Jepang,” terang Prof. Ronny.
Baca Juga: Rahasia Daging Berkualitas ala Meatguy Steakhouse
Di luar Jepang, Australia menjadi salah satu produsen wagyu terbesar, dengan kontribusi sekitar 18 persen dari total produksi global, disusul Amerika Serikat dan Selandia Baru.
Sejumlah negara lain seperti Kanada, Inggris, Jerman, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura juga mengembangkan wagyu dalam skala lebih kecil, baik melalui pemeliharaan sapi wagyu maupun persilangan.
Kondisi tersebut membuat konsumen perlu lebih teliti ketika menemukan produk yang menggunakan istilah wagyu, terlebih jika ditawarkan dengan harga premium. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memastikan asal-usul daging melalui dokumen resmi.
Prof. Ronny kemudian menjelaskan, wagyu Jepang asli dapat diidentifikasi melalui sertifikat resmi yang diterbitkan oleh Japan Meat Grading Association (JMGA). Sertifikat tersebut umumnya memuat sejumlah informasi penting, antara lain nomor identifikasi sapi, asal prefektur, grade daging seperti A3 hingga A5, serta nilai BMS.
“Bahkan jika diamati lebih dalam lagi dengan memperhatikan nomor sertifikat 10 digit, kita dapat melacak hingga ke peternakan asalnya,” imbuhnya.
Ia juga mengingatkan konsumen agar tidak mudah terkecoh dengan istilah yang terdengar premium, tetapi sebenarnya tidak menunjukkan bahwa daging tersebut berasal dari Jepang.
“Pada sertifikat tersebut, label ‘A5’ hanya sah jika daging benar-benar dinilai di Jepang. Jadi, istilah ‘A5 style’ atau ‘Kobe style’ di luar Jepang hanya untuk marketing sekaligus menandakan bahwa itu tidak berasal dari Jepang,” tegas Prof. Ronny.
Dengan demikian, istilah wagyu tidak selalu identik dengan wagyu Jepang. Daging yang berasal dari sapi wagyu yang dipelihara di Australia, Amerika Serikat, atau negara lain tetap dapat memiliki karakteristik wagyu, tetapi asal-usul, genetika, sistem pemeliharaan, hingga standar grading-nya dapat berbeda.
Karena itu, kata Prof. Ronny, konsumen di Indonesia disarankan tidak hanya mengandalkan foto, nama menu, atau klaim kualitas ketika membeli wagyu dengan harga tinggi. Pemeriksaan sertifikat dan informasi asal produk menjadi langkah penting untuk memastikan apa yang sebenarnya dibeli.
“Pelajari istilah ‘palsu’ seperti ‘style’ dan ‘inspired’. Belilah ke distributor resmi dan periksa sertifikat JMGA-nya, jangan hanya dari foto. Semoga konsumen kita bisa menikmati wagyu tanpa tertipu klaim palsu itu,” pesan Prof. Ronny.
Baca Juga: Cara Menangani dan Menyimpan Daging Kurban yang Baik dan Benar