Gaya Hidup Berperan dalam Risiko GERD Erosif

Prof. Ari menjelaskan, munculnya GERD hingga berkembang menjadi kondisi erosif berkaitan dengan sejumlah faktor risiko. Di antaranya merokok, obesitas, pola makan tertentu, kebiasaan langsung tidur setelah makan, kurang bergerak, hingga stres yang tidak terkelola.

“Ini faktor-faktor risikonya. Pertama adalah merokok, kemudian obesitas. Kemudian punya kebiasaan mengonsumsi makanan-makanan yang mengandung cokelat dan keju, lemak-lemak. Punya kebiasaan habis makan langsung tidur. Kemudian juga kurang bergerak, kurang olahraga,” tuturnya.

Stres juga dapat memperburuk keluhan pada sebagian pasien. Menurut Prof. Ari, ketika stres tidak terkendali, keluhan asam lambung dapat meningkat dan memicu kekambuhan GERD.

“Ketika dia stres, asam lambung tinggi. Ketika asam lambung tinggi, GERD kambuh. Ketika GERD kambuh, rasanya itu muter-muter di situ,” katanya.

Dalam kondisi tertentu, serangan GERD yang berulang bahkan dapat mengganggu kualitas hidup pasien secara signifikan. Prof. Ari menyebut, sebagian pasien dapat mengalami sensasi seperti tercekik dan rasa panik ketika gejala kambuh.

Pengobatan Tetap Perlu Diselesaikan meski Gejala Mereda

Dalam pengobatan GERD, Prof. Ari menekankan pentingnya pasien mengikuti durasi terapi yang direkomendasikan dokter. Pasalnya, hilangnya gejala dalam waktu singkat tidak selalu berarti proses penyembuhan sudah selesai.

“Biasanya dengan obat ini paling dalam seminggu-dua minggu gejala sudah hilang sama sekali. Tapi tidak boleh, obat ini harus dikonsumsi selama dua bulan. Karena untuk benar-benar obat ini menekan secara efektif produksi asam lambung sehingga penyembuhan itu bisa lebih sempurna,” jelasnya.

Ia pun mengingatkan pasien agar tidak langsung menghentikan obat hanya karena keluhan sudah menghilang.

“Kadang-kadang itu pasien seminggu-dua minggu enak, sudah tidak obat lagi. Nggak boleh. Karena akhirnya kembali lagi asam lambungnya naik,” ujar Prof. Ari.

Untuk pasien tertentu, setelah terapi selesai, penggunaan obat dapat dilakukan secara on demand, yakni dikonsumsi kembali ketika gejala muncul sesuai arahan dokter.

Prof. Ari juga menegaskan bahwa obat yang dibahas dalam terapi tersebut bukan obat yang sebaiknya digunakan secara sembarangan. Penggunaannya tetap memerlukan resep dan evaluasi dokter.

Ia menjelaskan, pada pasien dengan GERD erosif grade A dan B, kelompok obat tersebut dapat menjadi salah satu pilihan terapi, sedangkan pemilihan obat tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Baca Juga: Nyeri Dada GERD vs Nyeri Dada Jantung, Apa Bedanya? Ini Penjelasan Dokter