Gastroesophageal reflux disease (GERD) tidak selalu berhenti pada keluhan panas di dada atau rasa pahit di mulut. Pada kondisi yang lebih berat, paparan asam lambung berulang dapat menyebabkan luka pada kerongkongan atau dikenal sebagai erosive esophagitis (EE).

Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) sekaligus Profesor di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, Sp.PD, K-GEH, FACG, FACP, memaparkan bahwa GERD memiliki sejumlah gejala khas. Selain sensasi panas di dada dan rasa pahit di mulut, nyeri dada juga semakin mendapat perhatian sebagai salah satu gejala GERD.

“Jadi pasien dengan GERD itu pertama dua gejala utamanya, pasien itu panas dada seperti kebakar, kemudian mulutnya pahit. Satu hal lagi, sebenarnya sekarang kami bahas GERD pro di Asia, ada definisi GERD tambahan baru lagi yaitu nyeri dada. Nyeri dada itu bagian dari gejala GERD yang spesifik,” papar Prof. Ari, usai acara peluncuran Fexuprazan, dalam rangkaian Indonesian Digestive Disease Week (IDDW) 2026, yang digelar di Shangri-La Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Dijelaskan Prof. Ari, GERD erosif terjadi ketika paparan asam lambung menyebabkan kerusakan pada lapisan kerongkongan. Kondisi tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan tingkat kerusakannya, mulai dari grade A hingga grade D.

“Erosif itu karena perjalanan asam lambung itu bisa menyebabkan kerusakan dari esofagusnya, kerongkongannya. Kalau erosif itu ada luka, jadi ada grading-nya. Kalau GERD A itu kita bilang masih kurang dari 5 persen, kemudian naik terus B. Kemudian C sudah mulai hampir sekelilingnya dan D itu sudah sempit,” jelasnya.

Prof. Ari mengatakan, sebagian besar kasus GERD yang ditemukan melalui pemeriksaan endoskopi masih berada pada tingkat awal. Namun, kasus dengan tingkat keparahan lebih tinggi juga mulai ditemukan.

“Alhamdulillah di Indonesia ini dari riset-riset yang kita lakukan, 70-80 persen itu masih di A dan B. Tapi kita sudah bergeser, sudah mulai yang C dan D makin banyak,” katanya.

Perbedaan tingkat keparahan tersebut juga dapat terlihat dari keluhan pasien. Pada grade A dan B, gejala umumnya masih berupa keluhan khas GERD seperti dada terasa panas, mulut pahit, hingga rasa tidak nyaman pada tenggorokan.

Sementara itu, pada kondisi yang lebih berat, khususnya grade C dan D, pasien dapat mengalami komplikasi seperti perdarahan dan kesulitan menelan.

“Kalau sudah sampai kasus yang C dan D itu pasien sudah datang dengan muntah darah. Kemudian juga pasien yang sudah tidak bisa menelan lagi, kesulitan menelan,” ujar Prof. Ari.

Ia pun menambahkan, GERD erosif merupakan kondisi yang lebih berat dibandingkan GERD non-erosif. Jika tidak ditangani dengan baik, kerusakan pada kerongkongan juga dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

“Betul, dikatakan lebih parah. Jadi ada GERD, ada non-erosif, erosif sampai tadi A, B, C, D. Bahkan nanti setelah itu pre-cancer, bahkan kanker,” jelasnya.

Baca Juga: Daewoong Luncurkan Fexuprazan di Indonesia, Hadirkan Terapi P-CAB Baru untuk GERD

Gaya Hidup Berperan dalam Risiko GERD Erosif

Prof. Ari menjelaskan, munculnya GERD hingga berkembang menjadi kondisi erosif berkaitan dengan sejumlah faktor risiko. Di antaranya merokok, obesitas, pola makan tertentu, kebiasaan langsung tidur setelah makan, kurang bergerak, hingga stres yang tidak terkelola.

“Ini faktor-faktor risikonya. Pertama adalah merokok, kemudian obesitas. Kemudian punya kebiasaan mengonsumsi makanan-makanan yang mengandung cokelat dan keju, lemak-lemak. Punya kebiasaan habis makan langsung tidur. Kemudian juga kurang bergerak, kurang olahraga,” tuturnya.

Stres juga dapat memperburuk keluhan pada sebagian pasien. Menurut Prof. Ari, ketika stres tidak terkendali, keluhan asam lambung dapat meningkat dan memicu kekambuhan GERD.

“Ketika dia stres, asam lambung tinggi. Ketika asam lambung tinggi, GERD kambuh. Ketika GERD kambuh, rasanya itu muter-muter di situ,” katanya.

Dalam kondisi tertentu, serangan GERD yang berulang bahkan dapat mengganggu kualitas hidup pasien secara signifikan. Prof. Ari menyebut, sebagian pasien dapat mengalami sensasi seperti tercekik dan rasa panik ketika gejala kambuh.

Pengobatan Tetap Perlu Diselesaikan meski Gejala Mereda

Dalam pengobatan GERD, Prof. Ari menekankan pentingnya pasien mengikuti durasi terapi yang direkomendasikan dokter. Pasalnya, hilangnya gejala dalam waktu singkat tidak selalu berarti proses penyembuhan sudah selesai.

“Biasanya dengan obat ini paling dalam seminggu-dua minggu gejala sudah hilang sama sekali. Tapi tidak boleh, obat ini harus dikonsumsi selama dua bulan. Karena untuk benar-benar obat ini menekan secara efektif produksi asam lambung sehingga penyembuhan itu bisa lebih sempurna,” jelasnya.

Ia pun mengingatkan pasien agar tidak langsung menghentikan obat hanya karena keluhan sudah menghilang.

“Kadang-kadang itu pasien seminggu-dua minggu enak, sudah tidak obat lagi. Nggak boleh. Karena akhirnya kembali lagi asam lambungnya naik,” ujar Prof. Ari.

Untuk pasien tertentu, setelah terapi selesai, penggunaan obat dapat dilakukan secara on demand, yakni dikonsumsi kembali ketika gejala muncul sesuai arahan dokter.

Prof. Ari juga menegaskan bahwa obat yang dibahas dalam terapi tersebut bukan obat yang sebaiknya digunakan secara sembarangan. Penggunaannya tetap memerlukan resep dan evaluasi dokter.

Ia menjelaskan, pada pasien dengan GERD erosif grade A dan B, kelompok obat tersebut dapat menjadi salah satu pilihan terapi, sedangkan pemilihan obat tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Baca Juga: Nyeri Dada GERD vs Nyeri Dada Jantung, Apa Bedanya? Ini Penjelasan Dokter