Manajemen NSHE melaporkan, hingga Juli 2026, progres fisik proyek telah mencapai 89,49 persen. Capaian tersebut kembali ke posisi yang sama seperti pada akhir November 2025, sebelum bencana banjir dan longsor melanda wilayah Sumatera Utara pada 24–25 November 2025.

Bencana tersebut menyebabkan kerusakan pada fasilitas transmisi, infrastruktur pendukung bendungan, powerhouse, serta akses jalan menuju lokasi proyek. Kondisi itu membuat pelaksanaan konstruksi sempat mengalami penundaan.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kejadian tersebut merupakan peristiwa cuaca ekstrem nonrutin dengan periode ulang lebih dari 200 tahun.

Baca Juga: Sebelum Tahun Berganti, DPR Desak Kementerian ESDM Rampungkan Formulasi Harga Patokan Mineral Timah

Dalam kurun waktu sekitar delapan bulan pascabencana, NSHE melakukan pemulihan sehingga progres proyek kembali ke posisi sebelum bencana. Bendungan telah siap memasuki tahap initial impounding, sedangkan commissioning powerhouse berjalan sesuai rencana.

Selain itu, pengujian switchyard telah selesai 100 persen. Pemulihan jalur transmisi juga terus berlangsung sesuai target.

Manajemen NSHE menyampaikan bahwa pencapaian target Commercial Operation Date (COD) pada 2026 masih memerlukan dukungan dan sinergi berbagai kementerian dan lembaga. Dukungan terutama dibutuhkan untuk mempercepat penyelesaian perizinan serta administrasi hukum yang menjadi prasyarat pelaksanaan tahap impounding.