Antusiasme terhadap pagelaran ini pun dinilai sangat tinggi, bahkan melampaui ekspektasi. Irene menyebut fenomena 'perang tiket'yang biasanya terjadi pada konser musik populer, kini juga terjadi pada pertunjukan budaya.
“Jadi, ‘perang tiket’ ini bukan hanya saat kita menonton konser pop. Perang tiket ini nyata, dan akan terjadi di PSN. Karena teman-teman saya dari luar negeri semuanya ingin menonton ini,” tuturnya.
Lebih jauh, Irene pun berharap, ke depan pagelaran ini tidak hanya dinikmati di dalam negeri, tetapi juga dapat diperkenalkan ke panggung internasional.
“Semoga kita juga bisa membawanya ke luar negeri melalui jaringan kita di seluruh dunia,” ujarnya.
Menurut Irene, kekuatan utama dari pertunjukan budaya Indonesia terletak pada unsur “jiwa” yang tidak bisa direplikasi secara instan.
“Tari budaya kita bukan sekadar gerakan 1, 2, 3, 4 hitungan. Dari ekspresi wajah, dari setiap gerakan, ada sesuatu yang disebut jiwa. Jiwa tidak bisa dibeli dengan uang. Jiwa hanya bisa dirasakan, seperti cinta kita terhadap Indonesia,” ucapnya.
Di akhir pernyataannya, Irene berharap, Pagelaran Sabang Merauke mampu menjadi medium untuk membangkitkan rasa cinta terhadap bangsa, tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga dunia.
“Bagi saya, pertunjukan Sabang sampai Merauke bukan hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga untuk dunia,” pungkasnya.