Setelah mendengarkan persoalan yang disampaikan, kata dia, pemimpin dapat mengajak anggota tim melihat kembali hal-hal yang masih mungkin dilakukan. Dengan begitu, lanjut dia, solusi tidak selalu datang sepenuhnya dari atasan, tetapi juga mendorong anggota tim untuk terlibat dalam mencari jalan keluar.

“Setelah kita mendengarkan masalah itu, kita bilang, coba apa yang dirasakan bisa dikerjakan. Itu adalah tawaran pertama. Tawaran yang berikutnya, coba dikasih waktu,” ujar Vidjongtius.

Namun, apabila setelah diberikan waktu seseorang masih belum menemukan kecocokan dengan pekerjaan atau belum menemukan jalan keluar, pemimpin menurutnya dapat mempertimbangkan alternatif lain.

Salah satunya adalah memberikan kesempatan untuk menjalankan pekerjaan atau peran yang berbeda.

“Kalau sampai suatu waktu tertentu, dia masih belum ketemu click-nya, belum ketemu way out-nya, ya kita sebagai pimpinan bisa menawarkan sesuatu untuk pekerjaan yang lain. Nah, mungkin dia akan cocok ke tempat yang lain,” jelasnya.

Bagi Vidjongtius, pendekatan tersebut juga berkaitan dengan upaya pemimpin melihat potensi dan karakter setiap anggota tim. Selama seseorang menunjukkan karakter positif dan masih memiliki kemauan untuk berkembang, kesempatan untuk berubah tetap perlu diberikan.

“Yang penting orang itu memang punya karakter yang positif. Supaya orang itu bisa di-grow, supaya dia bukan toksik, bukan merecokin jajarannya. Nah, itu kita perlu sebagai leader, kita bisa membedakan,” katanya.

Di sisi lain, Vidjongtius menilai, pemimpin juga perlu memiliki ketegasan ketika menghadapi anggota tim yang justru memberikan dampak negatif terhadap lingkungan kerja.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan anggota tim yang sedang menghadapi kesulitan tetapi masih terbuka untuk berubah.

“Kalau dia itu toksik, harus jalur amputasi. Karena kalau dia sudah terjadi chaos, ya itu harus diarahkan ke jalan itu. Tapi kalau masih ada yang memang dikasih kesempatan untuk berubah, itu masih diberikan kesempatan-kesempatan,” pungkas Vidjongtius.

Baca Juga: Vidjongtius: Karyawan yang Mau Belajar dan ‘Repot’ Punya Peluang Karier Lebih Besar