Politik internal dan konflik kepentingan dapat menjadi tantangan dalam pengelolaan perusahaan, terutama ketika perbedaan kepentingan mulai muncul di antara jajaran pimpinan.

Untuk mencegah kondisi tersebut berkembang, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk periode 2017–2024, Vidjongtius, menilai jajaran direksi perlu menjadi teladan bagi seluruh organisasi.

Menurut Vidjongtius, direksi harus memiliki pemahaman bahwa mereka merupakan satu kesatuan dalam menjalankan perusahaan. Kekompakan di tingkat pimpinan menjadi penting karena sikap dan hubungan antaranggota direksi akan menjadi perhatian banyak orang di dalam organisasi.

“Kita selalu sepakat, itu poin pertama di level direksi. Karena level direksi itu kan dilihatin banyak orang. Direksi, lima-enam orang misalnya, itu adalah individu-individu yang dilihatin oleh ratusan manajer, ribuan manajer,” terang Vidjongtius, saat ditemui Olenka, di Jakarta, belum lama ini.

Vidjongtius mengatakan, ketika dirinya menjadi pemimpin di perusahaan, salah satu prinsip yang ditekankan kepada jajaran direksi adalah keberhasilan maupun kegagalan harus dipandang sebagai tanggung jawab bersama, bukan milik individu atau kelompok tertentu.

“Waktu saya menjadi pemimpin di sana, saya bilang, kita adalah satu dewan. Gagal, gagal semua. Sukses, sukses semua,” katanya.

Menurut Vidjongtius, prinsip tersebut diterapkan untuk menghindari benturan kepentingan maupun vested interest di antara anggota direksi.

Dengan membangun kesadaran sebagai satu kesatuan, jajaran pimpinan diharapkan dapat bekerja dalam arah yang sama dan tidak membentuk kelompok-kelompok kepentingan.

“Supaya apa? Menghindari tadi, benturan kepentingan, vested interest, gitu. Itu nggak ada. Jadi kita coba bikin situasi dan kondisi kita itu satu perahu,” tutur Vidjongtius.

Ia menambahkan, kesamaan bahasa, pemikiran, dan tindakan di tingkat pimpinan akan mempermudah terciptanya keselarasan hingga ke jenjang organisasi di bawahnya.

Sebaliknya, konflik yang terjadi di tingkat atas berpotensi ikut memengaruhi hubungan dan dinamika di tingkat bawah.

“Kalau pimpinan tertinggi itu sudah satu bahasa, satu pikiran, satu tindakan, jenjang ke bawahnya itu jauh lebih mudah. Kadang-kadang kalau konflik di atas, yang bawah itu lebih konflik lagi,” tukasnya.

Baca Juga: Vidjongtius: Karyawan yang Mau Belajar dan ‘Repot’ Punya Peluang Karier Lebih Besar