Presiden Donald Trump menegaskan tidak gentar meski baru saja menjadi target insiden penembakan dalam acara jamuan makan malam elit di Washington pada Sabtu malam (25/04/2026). Dalam pernyataan resminya di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa ancaman tersebut tidak akan memengaruhi komitmennya sebagai pemimpin negara.

Trump menekankan bahwa risiko merupakan bagian tak terpisahkan dari jabatan yang diembannya. Ia bahkan menyindir bahwa tidak ada yang benar-benar mengingatkannya soal tingginya risiko profesi tersebut, termasuk Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.

Baca Juga: Detik-Detik Penembakan di Jamuan Elit Washington: Donald Trump Dievakuasi

“Tidak ada yang memberitahu saya bahwa profesi ini sangat berbahaya. Jika Marco Rubio memberitahu, mungkin saya tidak akan lari. Saya di sini untuk melakukan pekerjaan, dan pekerjaan ini memang berbahaya,” ujar Trump.

Trump mengakui bahwa menjadi presiden adalah salah satu profesi dengan tingkat risiko tertinggi. Ia mengibaratkannya seperti pembalap mobil yang tetap melaju meski menyadari potensi bahaya di setiap tikungan.

Menurutnya, ancaman terhadap pemimpin negara tidak bisa sepenuhnya dihilangkan, bahkan dengan sistem keamanan paling ketat sekalipun. Ia juga menyinggung bahwa figur publik berpengaruh kerap menjadi sasaran serangan.

Baca Juga: Trump Sebut AS Tak Butuh Selat Hormuz

“Saya telah mempelajari banyak kasus pembunuhan. Biasanya yang menjadi target adalah orang-orang paling berpengaruh. Ancaman itu tidak terjadi pada mereka yang tidak melakukan apa-apa,” katanya.

Meski tidak mengaitkan langsung insiden tersebut dengan isu geopolitik tertentu, Trump menegaskan bahwa hal itu tidak akan menghalangi langkahnya dalam menjalankan agenda pemerintahan, termasuk kebijakan luar negeri.

Ia juga menyatakan bahwa dirinya tetap berkomitmen untuk menyelesaikan berbagai tantangan global, sembari memastikan stabilitas dalam negeri tetap terjaga.

Pasca-insiden, Trump sempat menyatakan keinginannya untuk tetap melanjutkan acara makan malam tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap aksi kekerasan. Namun, aparat penegak hukum memutuskan acara harus dihentikan dan lokasi segera dikosongkan demi alasan keamanan.

Baca Juga: Bukan Israel, Ini Sosok yang Membisiki Trump Memulai Serangan ke Iran

Sebagai gantinya, acara tersebut direncanakan akan dijadwalkan ulang dalam waktu 30 hari ke depan.

“Kami sebenarnya ingin melanjutkannya, karena saya tidak ingin membiarkan orang-orang jahat mengubah cara hidup kita,” tegas Trump.

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa insiden penembakan tersebut tidak menyurutkan sikap Trump dalam menghadapi ancaman, serta menegaskan posisinya untuk tetap memimpin di tengah situasi yang penuh tekanan.