Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkap sosok yang mendorong AS memulai serangan ke Iran. Trump mengatakan sosok yang paling pertama mendorong serangan tersebut adalah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
Trump mengungkap itu dalam forum diskusi di Tennessee pada Senin (23/3/2026). Pernyataan Trump merespons pernyataan publik yang mempertanyakan alasan keterlibatan AS dalam konflik yang sudah memasuki pekan ke empat itu.
Baca Juga: Antisipasi Dampak Perang Iran-AS dan Israel, Prabowo Irit Pemakaian Energi di Sejumlah Sektor
“Pete, saya kira Anda yang pertama kali berbicara dan mengatakan, ‘Mari kita lakukan karena kita tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir’,” ujar Trump dilansir Rabu (25/3/2026).
Meski menunjuk Pete sebagai orang pertama yang mendorong perang tesebut, namun Trump mengklaim dirinya juga telah melewati banyak diskusi dengan sejumlah pejabat penting AS sebelum memulai serangan tersebut. Intinya kata Trump, AS memilih melibatkan diri secara langsung dalam perang tersebut lantaran mereka juga punya kepentingan di Timur Tengah.
“Saya menelepon Pete, saya menelepon Jenderal Kane, saya menelepon banyak orang hebat kita. Kita punya masalah di Timur Tengah, atau kita bisa mengambil langkah dan melakukan perjalanan kecil ke Timur Tengah untuk menghilangkan masalah besar,” ungkapnya.
Di sisi lain, Pete Hegseth menjadi figur utama dalam penyampaian strategi militer AS dari Pentagon. Ia memaparkan target operasi yang mencakup penghancuran program rudal, produksi drone, serta kekuatan angkatan laut Iran.
Ia juga menanggapi kritik media terhadap operasi militer tersebut dan mendorong pemberitaan yang lebih positif. Konflik ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 13 personel militer AS dan meluas menjadi krisis regional.
Sejauh ini, Pete Hegseth belum bersedia membocorkan durasi operasi militer AS yang dilakukan di Iran. Namun yang jelas Pemerintah AS punya target sendiri untuk menyudahi perang tersebut.
“Kami tidak ingin menetapkan jangka waktu yang pasti,” ungkapnya.