Memiliki penghasilan setara upah minimum regional (UMR) bukan berarti seseorang tidak bisa memiliki kondisi finansial yang sehat.

Namun, menurut Financial Planner sekaligus CEO & Principal Consultant @zapfinance, Prita Hapsari Ghozie, SE, MCom, GCertFP., standar dan prioritas kesehatan keuangan bagi pekerja dengan penghasilan UMR memang berbeda.

Prita mengatakan, bagi masyarakat yang penghasilannya masih berada di level UMR, langkah pertama yang harus dilakukan bukan langsung mengejar tabungan atau investasi. Hal paling mendasar adalah memastikan kondisi keuangan tidak mengalami defisit.

“Untuk teman-teman yang masih penghasilannya di level UMR, aku selalu bilang bahwa checklist kesehatan keuangan dia itu memang berbeda dengan teman-teman lain yang mungkin penghasilannya sudah di atas UMR,” tutur Prita, dikutip dari podcast YouTube @roryasyari - @room.4improvement, Senin (31/8/2026).

Menurut Prita, kondisi keuangan yang sehat bagi seseorang dengan penghasilan UMR setidaknya dimulai dari memastikan pendapatan mampu menutupi seluruh pengeluaran.

“Untuk teman-teman yang masih UMR, checklist keuangan yang sehat itu pertama, dia harus penghasilan sama dengan pengeluaran. Artinya tidak minus. Nggak positif nggak apa-apa, tapi nggak boleh minus,” jelasnya.

Prita menekankan, salah satu cara untuk memastikan keuangan tidak minus adalah menghindari utang konsumtif, khususnya pinjaman online (pinjol) dan paylater.

“Gimana caranya? Satu, nggak boleh punya pinjaman online. Dua, nggak boleh punya paylater,” tegas Prita.

Ia memahami bahwa di tengah maraknya layanan belanja digital, godaan menggunakan paylater semakin besar. Namun, bagi seseorang yang penghasilannya masih terbatas, kebiasaan tersebut justru dapat membuat pengeluaran melampaui kemampuan finansial.

“Agak susah di zaman sekarang ya, belanja Shopee, belanja Tokopedia. Itu nggak boleh dulu? Nggak boleh, karena pada saat kita sudah melakukan itu, berarti kemungkinan besar kita sudah hidup di atas batas kemampuan finansial kita,” katanya.

Menurut Prita, prinsipnya sederhana. Jika seseorang memang mampu membeli sesuatu, seharusnya ia memiliki kemampuan untuk membayarnya tanpa harus mengandalkan utang konsumtif.

“Karena kalau kita mampu, kita akan bisa bayar. Sesederhana itu,” ujarnya.

Bagi pekerja dengan gaji UMR yang sudah telanjur memiliki cicilan, Prita menyarankan agar fokus utama diarahkan untuk melunasi utang tersebut.

Berbagai cara dapat dilakukan, mulai dari menjual barang yang dimiliki hingga mencari tambahan penghasilan. Menurut Prita, setiap orang perlu mengenali kemampuan dan keahlian masing-masing yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan.

“Lalu berikutnya adalah membuat diri kita yang mungkin tadinya punya cicilan tadi itu, gimana kita fokus untuk membayar cicilan tersebut dan lunas lebih cepat,” jelasnya.

“Bisa jadi caranya adalah menjual barang, atau mungkin juga menambah kapasitas kita supaya income-nya juga bisa bertambah dengan caranya masing-masing,” lanjut Prita.

Prita menilai, peningkatan penghasilan tidak bisa dilakukan dengan satu cara yang sama untuk semua orang. Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda sehingga perlu mengetahui potensi yang bisa dikembangkan.

“Karena kan tiap orang dibekali dengan kemampuan yang berbeda-beda, ya nggak sih? Dan dia harus paham nih kekuatan dia di mana yang membuat dia bisa menambah income tersebut,” tuturnya.

Baca Juga: Emas untuk Investasi atau Lindungi Kekayaan? Ini Penjelasan Financial Planner

Persoalan lain yang kerap muncul adalah ketika seseorang sudah memiliki tabungan, tetapi di saat bersamaan masih mempunyai utang. Prita menyarankan agar kondisi tersebut dilihat dari biaya utangnya.

Menurutnya, jika utang tersebut memiliki bunga, menggunakan sebagian tabungan untuk melunasinya dapat menjadi pilihan yang lebih rasional dibandingkan mempertahankan tabungan sambil membiarkan utang terus berbunga.

“Jadi lunasi dulu utang, kalau misalnya dia punya tabungan tapi terus dia punya utang. Harusnya tabungannya dibayarin utang, atau membayar utang,” kata Prita.

Ia menjelaskan bahwa bunga utang pada dasarnya membuat seseorang membayar lebih mahal dari nilai awal yang diterima.

“Jadi tabungan nggak apa-apa diambil dulu untuk membayar utang? Karena utang ini ada bunganya. Dengan adanya bunga artinya kita membayar sesuatu lebih mahal dari harga seharusnya,” jelasnya.

Prita kemudian merangkum prioritas yang perlu diperhatikan oleh masyarakat dengan penghasilan UMR. Pertama, memastikan kondisi keuangan tidak minus.

Kedua, mengurangi dan melunasi utang konsumtif. Setelah kondisi tersebut lebih sehat, barulah fokus berikutnya diarahkan pada peningkatan kapasitas diri dan penghasilan.

“Itu kenapa kalau untuk teman-teman yang UMR memang urutannya adalah 1. Nggak boleh minus dulu. 2. Nggak boleh masih kebanyakan punya utang. Jadi memang pelan-pelan mesti dilunasin,” ujar Prita.

Ia menegaskan bahwa terbebas dari pinjaman online dan paylater konsumtif sudah menjadi pencapaian penting bagi seseorang dengan penghasilan UMR.

“Jadi tuh akhirnya dia bisa bebas dari pinjol paylater. Kita ngomong pinjol paylater ya, bukan KPR. Itu udah luar biasa banget,” katanya.

Prita membedakan utang konsumtif seperti pinjol dan paylater dengan KPR. Menurutnya, KPR memiliki karakter berbeda karena pada akhirnya terdapat aset yang menjadi dasar pembiayaan.

“Karena beda kalau KPR itu ujungnya ada asetnya. Tapi kalau pinjol paylater kita nggak tahu,” jelasnya.

Setelah berhasil menjaga keuangan agar tidak minus dan mengurangi beban utang konsumtif, langkah berikutnya adalah meningkatkan kapasitas diri.

Harapannya, peningkatan kemampuan tersebut dapat membuka peluang untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.

“Nah yang terakhir adalah baru dia harus mampu menambah kapasitasnya dia. Dengan dia menambah kapasitas harapannya income-nya juga nambah. Udah itu dulu aja,” pungkas Prita.

Baca Juga: Financial Planner Ungkap Tanda-tanda Trauma Finansial yang Sering Tak Disadari, Apa Saja?