Persoalan lain yang kerap muncul adalah ketika seseorang sudah memiliki tabungan, tetapi di saat bersamaan masih mempunyai utang. Prita menyarankan agar kondisi tersebut dilihat dari biaya utangnya.

Menurutnya, jika utang tersebut memiliki bunga, menggunakan sebagian tabungan untuk melunasinya dapat menjadi pilihan yang lebih rasional dibandingkan mempertahankan tabungan sambil membiarkan utang terus berbunga.

“Jadi lunasi dulu utang, kalau misalnya dia punya tabungan tapi terus dia punya utang. Harusnya tabungannya dibayarin utang, atau membayar utang,” kata Prita.

Ia menjelaskan bahwa bunga utang pada dasarnya membuat seseorang membayar lebih mahal dari nilai awal yang diterima.

“Jadi tabungan nggak apa-apa diambil dulu untuk membayar utang? Karena utang ini ada bunganya. Dengan adanya bunga artinya kita membayar sesuatu lebih mahal dari harga seharusnya,” jelasnya.

Prita kemudian merangkum prioritas yang perlu diperhatikan oleh masyarakat dengan penghasilan UMR. Pertama, memastikan kondisi keuangan tidak minus.

Kedua, mengurangi dan melunasi utang konsumtif. Setelah kondisi tersebut lebih sehat, barulah fokus berikutnya diarahkan pada peningkatan kapasitas diri dan penghasilan.

“Itu kenapa kalau untuk teman-teman yang UMR memang urutannya adalah 1. Nggak boleh minus dulu. 2. Nggak boleh masih kebanyakan punya utang. Jadi memang pelan-pelan mesti dilunasin,” ujar Prita.

Ia menegaskan bahwa terbebas dari pinjaman online dan paylater konsumtif sudah menjadi pencapaian penting bagi seseorang dengan penghasilan UMR.

“Jadi tuh akhirnya dia bisa bebas dari pinjol paylater. Kita ngomong pinjol paylater ya, bukan KPR. Itu udah luar biasa banget,” katanya.

Prita membedakan utang konsumtif seperti pinjol dan paylater dengan KPR. Menurutnya, KPR memiliki karakter berbeda karena pada akhirnya terdapat aset yang menjadi dasar pembiayaan.

“Karena beda kalau KPR itu ujungnya ada asetnya. Tapi kalau pinjol paylater kita nggak tahu,” jelasnya.

Setelah berhasil menjaga keuangan agar tidak minus dan mengurangi beban utang konsumtif, langkah berikutnya adalah meningkatkan kapasitas diri.

Harapannya, peningkatan kemampuan tersebut dapat membuka peluang untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.

“Nah yang terakhir adalah baru dia harus mampu menambah kapasitasnya dia. Dengan dia menambah kapasitas harapannya income-nya juga nambah. Udah itu dulu aja,” pungkas Prita.

Baca Juga: Financial Planner Ungkap Tanda-tanda Trauma Finansial yang Sering Tak Disadari, Apa Saja?