Growthmates, apakah Anda sering merasa penghasilan tidak berubah, tetapi belanja bulanan justru semakin cepat habis? Kondisi ini bukan sekadar soal gaya hidup yang boros, melainkan sering kali terjadi karena tidak adanya struktur keuangan yang jelas.

Tanpa disadari, pengeluaran kecil yang muncul berulang kali bisa menjadi ‘kebocoran halus’ yang menggerus kondisi finansial keluarga.

Menurut Financial Planner sekaligus CEO & Principal Consultant @zapfinance, Prita Hapsari Ghozie, SE, MCom, GCertFP, solusi dari masalah ini bukan hanya menekan pengeluaran, tetapi mengatur keuangan dengan cara yang lebih terarah dan disiplin.

Prita pun membagikan pendekatan sederhana yang telah ia terapkan sejak usia 20-an bersama suaminya, yaitu membagi penghasilan ke dalam tiga pos utama yang dikenal sebagai Living, Saving, dan Playing.

“Saat masih usia 20-an dulu, aku pakai formula ini setiap habis gajian bareng suamiku 50 persen Living, 30 persen Saving, dan 20 persen Playing,” tutur Prita, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Jumat (10/4/2026).

Menurut Prita, pola ini bukan hanya membantu menjaga pengeluaran tetap terkendali, tetapi juga menciptakan keseimbangan antara kebutuhan hari ini, persiapan masa depan, dan kebahagiaan hidup.

Dalam praktiknya, kata Prita, tantangan terbesar biasanya muncul di pos Living yang mencakup kebutuhan sehari-hari seperti belanja, tagihan, hingga kebutuhan anak. Di sinilah kebocoran sering terjadi tanpa disadari.

“Di post kebutuhan anak dulu biasanya ada bocor alus. Seperti pembelian perintilan kebutuhan anak, belinya sih kecil-kecil, tapi frekuensinya sering. Hal-hal kecil yang tampak sepele ini, jika terjadi terus-menerus, bisa menjadi beban besar bagi keuangan,” jelas Prita.

Baca Juga: Cara Menghitung Dana Pensiun dengan Tepat Menurut Financial Planner

Karena itu, Prita pun menekankan pentingnya berbelanja secara hemat, namun tetap cerdas. Menurutnya, memilih produk yang tepat guna dan sesuai harga menjadi kunci utama agar pengeluaran tetap efisien.

Ia juga mengingatkan agar tidak mudah tergoda tren alias Fomo, terutama bagi orang tua baru yang kerap merasa perlu membeli banyak hal demi anak, padahal tidak semuanya benar-benar dibutuhkan.

Setelah kebutuhan hidup terpenuhi, lanjut Prita, langkah berikutnya adalah membangun keamanan finansial melalui tabungan dan investasi. Prita menegaskan bahwa kebiasaan menabung tidak boleh ditunda.

“Saving itu bukan nanti-nanti. Justru di fase inilah kita membangun fondasi keuangan menuju kuat. Dana darurat, dana pendidikan anak, dan rencana memiliki rumah menjadi prioritas penting yang sebaiknya mulai dipersiapkan sejak dini,” ungkapnya.

Menariknya, mengatur keuangan dengan disiplin bukan berarti menghilangkan kesenangan dalam hidup. Prita justru menekankan pentingnya tetap memberi ruang untuk menikmati hasil kerja keras.

“20 persen buat playing bisa kamu pakai untuk jajan weekend, selfcare, dan pacaran sama pasangan,” katanya.

Dengan adanya alokasi khusus ini, kata dia, setiap pengeluaran untuk kebahagiaan terasa lebih ringan karena sudah direncanakan.

Terakhir, Prita menekankan bahwa pada akhirnya, mengelola keuangan bukan soal seberapa besar penghasilan, melainkan bagaimana cara mengaturnya. Menurutnya, konsistensi dan kesadaran dalam menentukan prioritas menjadi kunci utama agar kondisi finansial tetap sehat.

“Ingat ya, belanja hemat dan cerdas itu wajib jika mau budget living lebih terkendali,” pungkasnya.

Baca Juga: Strategi Perencanaan Keuangan THR ala Aliyah Natasya