Pegiat media sosial Jhon Sitorus menyenti keras Wakil Ketua Umum Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN), Nanik S Deyang yang sedang menjalankan proyek pengadan 70 ribu becak listrik yang bakal disebar di seluruh wilayah Indonesia.
Jhon mengaku bingung sebab Nanik yang sebelumnya mengundurkan diri dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) mendadak dipercaya memegang proyek raksasa yang bakal menguras anggaran jumbo tersebut.
“Perkenalkan Nenek, eh maksud saya Nanik S Deyang maha bandraguna. Tiba-tiba sakit, tiba-tiba sembuh, tiba-tiba sudah kuasai proyek 70 ribu becak listrik,” ujar Jhon dilansir Olenka.id Rabu (16/9/2026).
Adapun Nanik beberapa bulan lalu mengundurkan diri dari jabatan kepala BGN dengan alasan sakit. Ia mengaku ingin fokus pemulihan dan harus menjalankan pengobatan di luar negeri.
Dia mengundurkan diri tengah proses penyelidikan kasus mega korupsi di BGN yang menyeret sejumlah nama eks petinggi lembaga tersebut seperti Dadan Hindayana dan Sony Sonjaya. Nanik disebut-sebut ikut terlibat dalam kasus itu, namun hingga kini eks tim sukses Prabowo-Gibran untuk Pilpres 2024 sama sekali tak diselidiki.
“Berkali-kali disebut terlibat dalam kasus korupsi BGN, tapi dia tetap lolos alias tidak dipanggil,” tegasnya.
Jhon meminta Nanik kooperatif apabila dikemudian hari dirinya diduga terlibat kasus hukum, jangan sampai mantan jurnalis itu berkelit dengan alasan yang sama, sakit.
“Nanik jangan tiba-tiba sakit lagi ya. Sony Sonjaya dan Dadan Hidayana nungguin tuh di tahanan Kejaksaan,” tegasnya.
Lebih jauh Jhon mengaku sangat curiga pada proyek pengadaan puluhan ribu becak listrik, menurutnya becak listrik bukan sebuah kebutuhan dasar dan mendesak bagi masyarakat Indonesia yang harus dikebut sesegera mungkin.
“Lagipula, apa urgensinya 70 ribu becak listrik dengan kebutuhan transportasi saat ini? Ini terlalu mencurigakan,” ucapnya.
Jhon bahkan dengan beraninya mengatakan bahwa jangan-jangan proyek pengadaan becak listrik itu hanya akal-akalan belaka, itu hanya menjadi lahan basah buat korupsi bagi pihak tertentu.
“Jangan-jangan mau cari lahan korupsi baru?” tandasnya.
Sebelumnya, Nanik S Deyang menjelaskan bahwa program becak listrik merupakan bentuk perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap masyarakat kecil, khususnya para pengayuh becak yang telah berusia lanjut.
Menurut Nanik, gagasan tersebut berawal dari keprihatinan Prabowo melihat para pengayuh becak lanjut usia yang masih harus mengayuh kendaraan untuk mencari nafkah.
Persoalan lainnya, kata Nanik, adalah kewajiban menyewa becak. Kondisi tersebut membuat sebagian pendapatan pengayuh harus digunakan untuk membayar biaya sewa kendaraan.
Nanik juga mengatakan Prabowo turut mendesain prototipe becak listrik sebelum kendaraan tersebut diproduksi.
“Beliau menggambar sendiri becak listriknya. Memanggillah waktu itu Pak Bobby yang sekarang Dirut KAI, dulu Dirut Len, dipanggil di Kertanegara waktu itu beliau masih Menhan. ‘Bisa enggak membuatkan becak listrik?’ Sampai dibayar di depan becaknya,” ujar Nanik.
Nanik mengatakan perhatian Prabowo terhadap para pengayuh becak telah berlangsung sejak dirinya masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Menurut Nanik, program pembagian becak listrik pertama kali diluncurkan pada masa kampanye 2023-2024 dengan sasaran awal 400 pengayuh becak di Madiun, Jawa Timur.
Ia menegaskan becak listrik tersebut diberikan sebagai aset pribadi kepada penerima.
Dengan skema tersebut, para pengayuh becak diharapkan memiliki modal usaha untuk menopang kehidupan mereka di usia lanjut tanpa harus kembali memikirkan biaya sewa kendaraan.
Untuk Kabupaten Bandung, Nanik mendorong pemerintah daerah mengintegrasikan becak listrik dengan sektor pariwisata lokal. Ia mencontohkan pemanfaatan moda tersebut di Blitar dan Solo yang menurutnya dapat menjadi rujukan.
Baca Juga: Nanik S Deyang Tinggalkan BGN Gegara Terseret Korupsi?
Sementara itu, pemerintah tahun ini menargetkan penyaluran hingga 70 ribu unit becak listrik secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia.
Program tersebut disebut memiliki total anggaran mencapai Rp1,6 triliun.