Sementara itu, Head of Marketing and Public Relations The Apurva Kempinski Bali, Charles Octaiano Seran, menegaskan bahwa tantangan keberlanjutan saat ini tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja.

“Tahun ini kami memperluas cakupan diskusi agar tidak hanya berfokus pada industri pariwisata, tetapi juga melibatkan sektor keuangan, pertanian, pendidikan, ekonomi kreatif, dan berbagai bidang lain yang memiliki peran penting dalam mendorong pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Charles, seluruh pencapaian ESG yang telah dilakukan hotel menjadi bagian dari kampanye jangka panjang yang diusung perusahaan.

Pada 2026, narasi tersebut diwujudkan melalui kampanye tahunan Powerful Indonesia: Spice Route Legacy, yang mengangkat sejarah jalur perdagangan rempah Nusantara sebagai inspirasi pelestarian budaya dan pembangunan masa depan.

Ia pun menambahkan bahwa regenerasi kini menjadi pesan utama yang ingin terus diperkuat.

“Regenerasi menjadi pesan yang sangat kuat bagi kami. Kami ingin seluruh hubungan dan kolaborasi, baik internal maupun eksternal, turut mendukung pesan tersebut. Ini bukan pesan jangka pendek, melainkan sesuatu yang ingin kami bawa dan lanjutkan dalam jangka panjang,” katanya.

Salah satu implementasi dari kampanye tersebut adalah program Spice Route Voyage, perjalanan selama tujuh hari yang mengajak tamu menjelajahi berbagai wilayah Indonesia untuk memahami sejarah rempah-rempah sekaligus kekayaan budaya Nusantara.

Selain konferensi, PTSG 2026 juga menghadirkan program inkubasi dan pendampingan Seeds of Change yang ditujukan bagi mahasiswa serta startup tahap awal yang bergerak di bidang pariwisata regeneratif dan inovasi berkelanjutan.

Program ini dimulai melalui proses seleksi nasional untuk memilih sepuluh peserta terbaik yang akan mengikuti pendampingan intensif selama delapan minggu.

Vincent menyebut program tersebut sebagai langkah baru yang akan memperluas dampak Path to Sustainable Growth di luar konferensi satu hari.

“Melalui Seeds of Change, kami akan memilih sepuluh kandidat yang akan mengikuti program khusus. Tujuan utamanya adalah memperluas gerakan ini dan menjangkau lebih banyak orang. Itulah perbedaan terbesar tahun ini, yakni menghadirkan dampak nyata dan menginspirasi pihak lain,” ujarnya.

Pada akhir program, dua tim terbaik akan memperoleh hibah pengembangan senilai Rp50 juta dan Rp20 juta untuk merealisasikan ide bisnis mereka.

Pemahaman mengenai regenerasi juga menjadi salah satu tema utama yang akan dibahas dalam konferensi. Founder dan Chairman Eco Tourism Bali sekaligus moderator PTSG 2026, Alastair Speirs, menilai, regenerasi tidak dapat dipisahkan dari pemahaman mengenai warisan yang diterima dan ditinggalkan oleh setiap generasi.

“Banyak orang tidak benar-benar memahami perbedaan antara heritage dan legacy. Heritage adalah apa yang kita terima dari masa lalu. Legacy adalah apa yang kita tinggalkan untuk masa depan. Jika warisan yang kita terima tidak dirawat dengan baik, maka kita harus melakukan regenerasi, memperbaiki, dan menghidupkannya kembali. Namun, jika warisan itu dijaga dengan baik, kita bisa meneruskannya sebagai legacy yang bahkan lebih baik daripada sebelumnya,” jelas Alastair.

Menurut Alastair, filosofi tersebut menjadi dasar penyusunan seluruh rangkaian diskusi dalam Path to Sustainable Growth 2026.

Baca Juga: The Apurva Kempinski Bali Raih Empat Penghargaan Kuliner dan Minuman Bergengsi Asia Pasifik 2025