Mengawali tahun 2026, The Apurva Kempinski Bali kembali menegaskan komitmennya dalam merayakan sekaligus melestarikan warisan seni Indonesia melalui pameran eksklusif bertajuk Gallery of Art: Wianta & Legacy.
Pameran ini menghadirkan karya-karya mendiang maestro seni kontemporer Bali, Made Wianta, yang dikenal sebagai sosok visioner dan salah satu figur paling berpengaruh dalam perkembangan seni rupa modern Indonesia.
Dibuka untuk publik sejak 23 Januari 2026 di Pendopo Lobby The Apurva Kempinski Bali, pameran ini menampilkan seri ikonik Mandala, yang memperlihatkan interpretasi khas Made Wianta melalui permainan garis, titik, geometri, dan ruang.
Karya-karya tersebut mengajak penikmat seni memandang alam semesta sebagai satu kesatuan ritme kehidupan yang saling terhubung dan harmonis.
Made Wianta (1949–2020) lahir di Tabanan dan dikenal sebagai seniman yang berani menembus batas tradisi seni rupa Bali. Ia berhasil membawa seni rupa Bali ke arah yang lebih modern tanpa kehilangan akar budaya lokal.
Perjalanan artistiknya semakin berkembang saat ia menetap di Brussel, Belgia, pada 1975–1977. Di sana, ia mendalami dunia galeri seni Eropa dan memperluas perspektif globalnya.
Pengalaman tersebut memperkaya pendekatan estetikanya, memungkinkan ia memadukan pemikiran seni Barat dengan kekayaan budaya Bali seperti musik karawitan dan lukisan wayang klasik.

Sepanjang kariernya, Made Wianta meraih berbagai pencapaian internasional, termasuk mewakili Indonesia di Venice Biennale 2003 serta menggelar pameran di berbagai galeri dunia, termasuk Mike Weiss Gallery di New York.
Warisan karyanya kini menjadi jembatan penting antara tradisi dan inovasi modern dalam seni Indonesia.
Sebanyak sebelas karya utama yang dipamerkan merupakan bagian dari seri besar ketiga dalam perjalanan artistik Made Wianta.
Seri Mandala terinspirasi dari konsep Bali Pangider-ider, yakni pemujaan sembilan dewa penjaga sembilan penjuru mata angin, yang kemudian diterjemahkan Wianta dalam bahasa visual modern.
Seri ini kerap disebut sebagai 'versi Asia' dari pendekatan kubisme Picasso, namun dengan identitas lokal yang kuat.
Bagi Wianta, Mandala bukan sekadar simbol religius, melainkan representasi tatanan kehidupan yang sempurna, lingkaran keseimbangan antara alam semesta dan kedamaian batin manusia.
Karya-karya tersebut juga memperlihatkan kedekatan Wianta dengan simbol-simbol alam seperti gunung dan laut, yang menjadi metafora keseimbangan energi kehidupan.
Baca Juga: The Apurva Kempinski Bali Raih Empat Penghargaan Kuliner dan Minuman Bergengsi Asia Pasifik 2025