Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja kini telah berada di puncak kariernya, ia menjadi salah satu figur paling berpengaruh di bank swasta terbesar di Indonesia itu.
Jahja Setiaatmadja bukan figur yang tiba-tiba muncul dan diberi jabatan mentereng di sebuah perusahaan perbankan swasta sekaliber BCA.
Ia telah menempuh perjalan panjang, ditempa dengan sangat keras oleh keadaan sebelum akhirnya sukses menggapai titik dimana ia berdiri sekarang ini.
Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Investasi ‘Leher ke Atas’ Bisa Mengubah Jalan Hidup Anda
Kendati sukses membuat banyak gebrakan bersama BCA, namun terjun ke dunia perbankan bukanlah mimpi Jahja Setiaatmadja muda.
Menjadi dokter gigi adalah cita-cita yang ia gantungkan di langit tetapi gagal ia raih, ada banyak penyebab yang merintanginya merengkuh mimpi itu, salah satunya karena masalah biaya yang dipatok setinggi langit.
Jahja terpaksa putar haluan dan sempat melirik fakultas teknik di beberapa kampus, namun lagi-lagi ia terbentur biaya. Keadaan ekonomi yang menghimpitnya membawa Jahja ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Masuk fakultas ekonomi bukan pilihan yang terpaksa, Jahja memilih itu dengan kesadaran penuh sebab ia tahu betul bahwa cita-cita menjadi dokter gigi atau masuk teknik adalah kemustahilan untuk kondisi ekonomi keluarganya kala itu.
“Yaudah ke Universitas Pemerintah (Universitas Indonesia) ekonomi,” kenang Jahja sebagaimana dilansir Olenka.id Selasa (28/4/2026).
“Saya ikut serta dalam suatu bimbingan tes, coba di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dan bersyukur, saya akhirnya diterima, sampai saya selesai,” sambungnya.
Awal Mula Perjalanan Karier
Tuntas menunaikan studi di Universitas Indonesia, Jahja gerak cepat mencari pekerjaan, singkatnya ia diterima salah satu perusahan konsultan sebagai auditor junior. Masuk dunia kerja bukan berarti tantangan dan cobaan hidup sudah selesai.
Lagi-lagi Jahja memulai bab baru dengan beban berat di pundaknya. Ia harus menerima kenyataan bahwa ijazah sarjana ekonomi yang sudah dengan susah payah diperjuangkan hanya dihargai upah tak layak di perusahaan tersebut. Rasanya tidak adil tapi ia tak punya pilihan lain.
“Kalau waktu dulu ya, sebulan saya dapat Rp60.000, mungkin sekarang ya paling Rp2.000.000, Rp3.000.000 lah kira-kira. Rasanya minim gitu untuk seorang lulusan sarjana ekonomi, ya akuntan lagi,” beber Jahja.
Dihadapkan pada kenyataan tak mengenakan, Jahja menolak menyerah, tetapi memilih hengkang bukanlah keputusan bijak.
Ia kemudian mencari pekerjaan tambahan demi mendongkrak penghasilan bulanan yang masih jauh dari cukup itu.
Pekerjaan tambahan yang ia lakoni lumayan menguras waktu dan tenaga, itu pilihan berat namun Jahja teguh dan memilih tetap sungguh-sungguh.
“Nah, kemudian saya cari penghasilan sampingan. Saya nyewain waktu itu namanya video Betamax. Betamax itu untuk private video, jadi saya keliling. Saya keliling dengan motor, menjajakan itu ke teman-teman, ke kenalan-kenalan untuk disewa,” ucapnya.
Keberuntungan dan nasib baik selalu datang dari arah yang tak diduga. Siapa sangka, pekerjaan sampingan itu justru mengantar Jahja pada bab baru dalam perjalanan kariernya.
Jasa penyewaan Betamax membawanya berkenalan dengan seseorang yang di kemudian hari mengajaknya bergabung ke Kalbe Farma, perusahaan yang mengupahnya dengan sangat layak.
“Akhirnya saya kenal dengan seorang langganan saya, dan dia bilang, wah lu kan dari ekonomi, gue juga dari situ katanya. Gue direktur di Kalbe Farma. Gaji lu berapa? Katanya paling Rp50.000-Rp60.000. Eh betul pak, Rp60.000. Ikut gua katanya di Kalbe Farma,” tutur Jahja mengulang percakapan mereka kala itu.
“Waduh, saya pikir kalau kerja setahun demi setahun paling naik 20%, dari Rp60.000 mau berapa gitu, berapa tahun perlu. Ini langsung ditawarkan. Nah, akhirnya saya pindah ke Kalbe Farma,” tambahnya.
Baca Juga: Sejarah Panjang KA Argo Bromo Anggrek, Kereta Premium yang Terlibat Kecelakaan Maut di Bekasi Timur
Jahja merawat kepercayaan itu sepenuh hati lewat berbagai kinerja apik yang membuat karier terus melejit. Setiap dua tahun ia mendapat promosi naik jabatan, perjalanan mulus itu membuat Jahja menjadi naik ke pucuk pimpinan di Kalbe Farma di usia yang masih relatif muda.
“Akhirnya tahun 88, waktu itu saya umur 33, saya sudah diangkat direktur keuangan PT Kalbe Farma. Suatu perusahaan farmasi yang lumayan besar, sampai sekarang pun mereka masih tetap terbesar,” pungkasnya.