Semakin banyak orang tua di Indonesia mulai mengenalkan bahasa asing kepada anak sejak usia dini. Selain dianggap sebagai bekal komunikasi untuk masa depan, belajar bahasa asing juga dinilai mampu memberikan manfaat bagi perkembangan otak dan kemampuan kognitif anak.
Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Ayoe Sutomo, menjelaskan bahwa proses mempelajari bahasa baru tidak hanya membantu anak menambah kosakata. Lebih dari itu, aktivitas tersebut turut melatih cara berpikir, kemampuan memahami pola, hingga keterampilan memecahkan masalah.
Baca Juga: Anak Generasi Alpha Disebut Lebih Sensitif dari Gen Z, Ini Alasannya Menurut Psikolog
"Belajar bahasa baru tidak hanya membantu anak memperluas kosakata, tetapi juga melatih cara mereka memahami pola, menghubungkan informasi, dan menyesuaikan diri dengan konteks yang berbeda. Dalam berbagai penelitian, kemampuan-kemampuan ini berkaitan dengan berkembangnya fleksibilitas berpikir yang menjadi pondasi penting dalam proses belajar dan pemecahan masalah sehari-hari," ujar Ayoe dalam keterangan resminya yang Olenka kutip pada Rabu (24/06/2026).
Menurutnya, ketika mempelajari bahasa baru, otak anak bekerja lebih aktif karena harus mengenali pola bahasa, memahami konteks percakapan, mengingat kosakata, hingga beradaptasi dengan aturan linguistik yang berbeda. Berbagai aktivitas tersebut melibatkan fungsi memori, perhatian, penalaran, dan kemampuan mengambil keputusan secara bersamaan.
Temuan tersebut sejalan dengan sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa dapat memberikan dampak positif terhadap fungsi kognitif. Salah satunya adalah studi yang dilakukan oleh Baycrest dan York University yang menemukan adanya peningkatan fungsi eksekutif dan performa kognitif pada orang dewasa yang belajar bahasa secara rutin selama sekitar 30 menit per hari dalam kurun waktu empat bulan.
Baca Juga: Psikolog: Bermain di Luar Ruangan Bisa Bantu Anak Tumbuh Lebih Mandiri dan Tangguh
Penelitian tersebut mencatat peningkatan pada sejumlah aspek, termasuk memori kerja, fokus, serta fleksibilitas kognitif dibandingkan kelompok yang tidak mengikuti pembelajaran bahasa.
Sementara itu, riset yang dikemukakan Duolingo menyebutkan bahwa belajar bahasa secara rutin mendorong otak untuk terus memanggil kembali informasi, mengenali pola, berpindah di antara berbagai konsep, serta beradaptasi dengan aturan bahasa yang baru. Aktivitas ini dinilai bekerja layaknya latihan mental yang membantu menjaga ketajaman fungsi otak.
Meski demikian, Ayoe menegaskan bahwa manfaat tersebut tidak muncul secara instan. Ia mengatakan konsistensi dan pengalaman belajar yang menyenangkan menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan anak mempelajari bahasa baru.
"Konsistensi, frekuensi belajar yang teratur, serta pengalaman belajar yang menyenangkan tetap menjadi faktor penting yang mendukung keberhasilan anak dalam mempelajari bahasa baru," katanya.
Ayoe juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak selama proses belajar, terutama jika pembelajaran dilakukan melalui perangkat digital.
Tren pembelajaran bahasa asing sendiri semakin terlihat di Indonesia. Banyak orang tua kini memadukan interaksi sehari-hari, pendidikan formal, hingga platform digital untuk mengenalkan berbagai bahasa kepada anak sejak usia dini.
Salah satu contohnya adalah Hudzaifah Giyan G. yang mulai dikenalkan pada berbagai bahasa sejak masih kecil. Ayahnya, Gosra Andri Putra, mengatakan ketertarikan sang anak terhadap bahasa tumbuh secara alami melalui kombinasi paparan multibahasa, interaksi sehari-hari, serta pemanfaatan berbagai sarana belajar.
"Hudzaifah mulai dikenalkan pada berbagai bahasa sejak usia yang masih sangat muda. Sekitar usia 2,5–3 tahun, ia mulai belajar bahasa Inggris secara mandiri, dan salah satu alat yang ia gunakan adalah Duolingo. Menurut saya, aplikasi ini aman untuk anak-anak dan juga menyenangkan, karena dirancang seperti permainan dan menawarkan banyak pilihan bahasa. Yang terpenting, sama seperti penggunaan gadget atau permainan lainnya, pengawasan orang tua tetap menjadi hal yang penting dalam penggunaan oleh anak-anak," ujar Gosra.
Di luar manfaat akademis, kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa juga dinilai dapat membantu anak mengenal berbagai budaya, memahami perspektif yang berbeda, serta meningkatkan kemampuan beradaptasi di lingkungan yang semakin global.
Dengan demikian, pembelajaran bahasa asing kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai keterampilan komunikasi. Bagi banyak orang tua, aktivitas ini juga menjadi investasi jangka panjang untuk membangun rasa ingin tahu, kemampuan berpikir fleksibel, serta fondasi pembelajaran sepanjang hayat bagi anak.