Dukungan Kementerian Pertanian (Kementan) terhadap pengembangan bioenergi tak hanya berhenti pada implementasi B50. Lebih dari itu, Kementan telah menyiapkan teknologi biodiesel B100 berbasis CPO untuk mempercepat hilirisasi sawit, memperkuat ketahanan energi, dan mengurangi impor BBM.

Seperti diketahui, pemerintah resmi memulai implementasi biodiesel B50 pada Juli 2026 sebagai tonggak baru dalam pengembangan energi baru terbarukan.

Di balik kebijakan tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) ternyata telah menyiapkan langkah yang lebih maju melalui pengembangan teknologi biosolar B100 berbasis minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO).

Baca Juga: Pemerintah Optimis Program Pemanfaatan Biodiesel hingga B100 Dapat Terealisasi, Ketua MAKSI Ingatkan Hal Ini

Inovasi ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi perkebunan untuk meningkatkan nilai tambah sawit sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan Indonesia memiliki modal besar untuk mewujudkan kemandirian energi karena merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Menurutnya, komoditas sawit tidak boleh hanya dipasarkan sebagai bahan baku, melainkan harus diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi, termasuk bahan bakar nabati.

"Kita tidak boleh hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Sawit harus dihilirisasi sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional," ungkap Amran dalam keterangan resmi yang diterima pada Kamis (9/8/2026). 

Baca Juga: Kementan Ungkap Upaya Peningkatan Produktivitas Kakao Indonesia yang Masih Rendah

Komitmen tersebut telah diwujudkan melalui pemanfaatan CPO untuk sektor bioenergi. Amran mengungkapkan, pemerintah telah mengalokasikan sekitar 5,3 juta ton CPO untuk memenuhi kebutuhan biofuel nasional.

Kebijakan ini diharapkan mampu menekan impor solar sekaligus memperkuat bauran energi baru dan terbarukan yang menjadi salah satu agenda strategis pemerintah.

Langkah tersebut semakin relevan seiring dimulainya implementasi B50. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), program ini diproyeksikan meningkatkan kebutuhan biodiesel nasional menjadi sekitar 17,6 juta kiloliter sepanjang 2026.

Di sisi lain, penggunaan B50 diperkirakan mampu menghemat devisa negara akibat berkurangnya impor solar hingga sekitar Rp157,28 triliun dalam satu tahun.

Untuk mendukung arah kebijakan tersebut, Kementan tidak hanya berperan sebagai penyedia bahan baku sawit.

Melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Direktorat Jenderal Perkebunan, serta Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementan juga mengembangkan teknologi bioreaktor yang mampu mengolah CPO menjadi biosolar B100 atau bahan bakar nabati murni berbasis sawit.

Kepala BRMP, Fadjry Djufry, mengatakan pengembangan teknologi tersebut merupakan bukti bahwa sektor pertanian mampu memberikan kontribusi nyata terhadap transisi energi nasional melalui inovasi dan hilirisasi.

"Inovasi ini merupakan langkah strategis dalam mendorong transisi energi nasional berbasis sumber daya domestik, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," kata Fadjry.

Menurut Fadjry, modernisasi pertanian saat ini tidak lagi hanya diukur dari peningkatan produksi di tingkat budidaya.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana hasil pertanian dan perkebunan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu memperkuat perekonomian nasional.

"Inovasi seperti bioreaktor CPO menjadi B100 adalah contoh nyata bagaimana riset dan teknologi dapat menjawab kebutuhan energi nasional," ujarnya.

Ia menjelaskan, teknologi bioreaktor tersebut sebelumnya telah diperkenalkan kepada publik melalui Warehouse Hilirisasi Perkebunan dalam ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo.

Kehadiran teknologi itu menjadi bukti bahwa hasil riset Kementan telah siap diperkenalkan kepada masyarakat dan dunia usaha sebagai bagian dari percepatan hilirisasi sektor perkebunan.

Tak hanya mengembangkan teknologi B100, Kementan juga memperkenalkan berbagai inovasi hilirisasi lainnya, mulai dari teknologi produksi Virgin Coconut Oil (VCO) metode kering dan berbagai olahan kelapa lainnya. 

Beragam inovasi tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi sawit tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan energi terbarukan, tetapi juga mendukung industri pangan, kesehatan, dan penguatan ekonomi berbasis agroindustri.

Fadjry menegaskan, seluruh inovasi tersebut diarahkan agar tidak berhenti sebagai hasil penelitian semata, melainkan dapat dimanfaatkan langsung oleh petani, koperasi, maupun pelaku usaha.

"Kami ingin memastikan bahwa inovasi tidak berhenti di laboratorium atau pameran, tetapi benar-benar sampai dan dapat diadopsi oleh petani di lapangan. Hilirisasi harus menjadi gerakan bersama agar perkebunan kita semakin berdaya saing dan berkelanjutan," katanya.

Dengan dimulainya era B50, kesiapan teknologi B100 menunjukkan bahwa Kementan tidak hanya mengikuti arah kebijakan energi nasional, tetapi juga telah menyiapkan fondasi teknologi untuk tahap berikutnya.

Sinergi antara hilirisasi sawit, inovasi teknologi, dan penguatan bioenergi diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri perkebunan, memperbesar nilai tambah CPO di dalam negeri, sekaligus memperkuat ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi nasional.