Daftar orang terkaya di Asia Tenggara mengalami perubahan besar pada 2026. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, tidak ada nama konglomerat Indonesia yang masuk dalam daftar lima orang terkaya di ASEAN berdasarkan data terbaru Forbes Real-Time Billionaires per awal Agustus 2026.
Posisi teratas kini ditempati pengusaha asal Vietnam, sementara Filipina, Thailand, dan Singapura turut mengisi jajaran lima besar. Pergeseran ini terjadi setelah nilai kekayaan sejumlah konglomerat Indonesia mengalami penurunan akibat koreksi pasar saham dan melemahnya harga komoditas.
Berikut daftar lima orang terkaya di ASEAN terbaru:
1. Pham Nhat Vuong (Vietnam) – US$33,6 miliar
Pendiri Vingroup, Pham Nhat Vuong, masih menjadi orang terkaya di Asia Tenggara dengan total kekayaan mencapai US$33,6 miliar.
Baca Juga: Mengapa Sekolah Anak Orang Terkaya di Dunia Bisa Berbiaya Miliaran Rupiah per Tahun? Ini Alasannya
Kenaikan nilai asetnya didorong oleh ekspansi VinFast di pasar kendaraan listrik global. Selain otomotif, Vingroup juga memiliki lini bisnis di sektor properti, teknologi, pendidikan, hingga layanan kesehatan.
2. Enrique Razon Jr. (Filipina) – US$21,6 miliar
Di posisi kedua ada Enrique Razon Jr. dengan estimasi kekayaan sebesar US$21,6 miliar.
Taipan asal Filipina ini dikenal sebagai pemilik International Container Terminal Services Inc. (ICTSI), salah satu operator pelabuhan terbesar di dunia. Pertumbuhan bisnis logistik internasional, ditambah pemulihan industri kasino dan perhotelan, turut mengerek nilai kekayaannya sepanjang tahun.
3. Sarath Ratanavadi (Thailand) – US$17,7 miliar
Posisi ketiga ditempati Sarath Ratanavadi dengan kekayaan sekitar US$17,7 miliar.
Melalui Gulf Energy Development, Sarath menikmati peningkatan valuasi bisnis berkat tingginya kebutuhan infrastruktur digital, mulai dari pusat data (data center) hingga layanan komputasi awan yang berkembang pesat di kawasan.
Baca Juga: Orang Terkaya di Dunia pun Bisa Stres, Ini Pelajaran dari Elon Musk
4. Dhanin Chearavanont (Thailand) – US$17,6 miliar
Dhanin Chearavanont berada di posisi keempat dengan total kekayaan mencapai US$17,6 miliar.
Pemimpin Charoen Pokphand (CP) Group ini memiliki kerajaan bisnis di sektor agribisnis, pangan, peternakan, hingga ritel modern. Bisnisnya yang tersebar di berbagai negara membuat kekayaannya tetap stabil di tengah perlambatan ekonomi global.
5. Jason Chang (Singapura) – US$17,4 miliar
Posisi kelima ditempati Jason Chang dengan estimasi kekayaan sebesar US$17,4 miliar.
Kekayaannya didorong oleh membaiknya industri semikonduktor dunia. Tingginya permintaan cip untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI), pusat data, hingga perangkat elektronik modern menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan nilai asetnya.
Mengapa Tak Ada Konglomerat Indonesia di Lima Besar?
Absennya nama pengusaha Indonesia menjadi salah satu perubahan paling mencolok dalam daftar orang terkaya ASEAN tahun ini. Padahal, pada awal 2026 konglomerat Tanah Air sempat mendominasi posisi teratas.
Salah satu penurunan terbesar dialami Prajogo Pangestu. Pendiri Barito Group itu sebelumnya sempat menjadi orang terkaya di Asia Tenggara dengan estimasi kekayaan mencapai US$38,1 miliar.
Baca Juga: Mengapa Orang Terkaya di Dunia Punya Yayasan? Pakar Ungkap Strategi di Baliknya
Namun, nilai kekayaannya kemudian terkoreksi menjadi sekitar US$16,1 miliar.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh volatilitas saham sejumlah emiten milik Barito Group, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT), setelah mengalami reli tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Di sisi lain, pelemahan harga batu bara global juga memberikan tekanan terhadap valuasi perusahaan tambang. Kondisi ini turut mempengaruhi kekayaan Low Tuck Kwong melalui PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Meski masih menyandang status sebagai orang terkaya di Indonesia, nilai kekayaannya belum cukup untuk mengembalikan Indonesia ke jajaran lima besar orang terkaya di ASEAN.
Perubahan komposisi tersebut menunjukkan bahwa peta kekayaan di Asia Tenggara terus bergerak mengikuti dinamika pasar modal dan perkembangan industri global. Untuk sementara, Vietnam berhasil mengambil alih posisi teratas, sementara konglomerat Indonesia harus rela keluar dari daftar lima besar setelah bertahun-tahun mendominasi kawasan.