Growthmates, banyak karyawan beranggapan bahwa promosi jabatan akan datang seiring lamanya masa kerja.

Namun, menurut Ajeng Asmarandhany, Certified Career Coach & Leadership Trainer sekaligus Founder @kelas.mindgrowth, faktor yang paling menentukan bukanlah senioritas, melainkan kemampuan seseorang untuk terus melampaui ekspektasi dari peran yang sedang dijalani.

Ajeng menuturkan, cara paling efektif untuk membuka peluang promosi adalah dengan menunjukkan kapasitas yang lebih besar daripada tanggung jawab yang saat ini diemban.

Menurutnya, ketika seorang karyawan mampu memberikan kontribusi yang konsisten di atas target yang diharapkan, atasan akan lebih mudah melihat potensi tersebut untuk mengemban peran yang lebih tinggi.

"Cara termudah untuk kita bisa promosi adalah kita harus mengembangkan peran kita sekarang. Kalau selama ini kita diharapkan 100% di peran tersebut, kita konsisten di 110% atau bahkan 120%, nggak mungkin user kita nggak melihat," papar Ajeng, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari Instagram @senalar.id, Jumat (7/8/2026).

Untuk menggambarkan konsep tersebut, Ajeng menggunakan analogi sederhana tentang seorang anak yang mendapatkan sepatu baru.

Menurutnya, orang tua baru akan membelikan sepatu dengan ukuran lebih besar ketika sepatu lama sudah tidak muat lagi.

"Kayak anak kecil, dia dibeliin sepatu baru pada saat dia udah mengembangkan sepatu yang lama. Jadi kalau udah kesempitan baru dibeliin sepatu baru. Tapi kalau sepatu yang sekarang masih longgar, ngapain dibeliin ukuran yang lebih besar?" katanya.

Ajeng menilai, prinsip yang sama juga berlaku di dunia kerja. Seorang karyawan yang belum mampu memenuhi ekspektasi dasar dari posisinya akan sulit dipertimbangkan untuk memperoleh tanggung jawab yang lebih besar, terlepas dari berapa lama ia telah bekerja di perusahaan.

Baca Juga: Biar Gaji Gak Numpang Lewat, Ini Strategi Cerdas Generasi Sandwich Mengatur Keuangan

Menurut Ajeng, masih banyak karyawan yang merasa layak dipromosikan hanya karena masa kerja yang panjang.

Padahal, jika performa yang ditunjukkan baru mencapai sebagian dari target yang diharapkan dan tidak pernah berkembang, perusahaan tidak memiliki alasan kuat untuk menaikkan jabatan tersebut.

"Kalau performa kita baru 80% dari 100% yang diharapkan, dan konsistennya cuma di 80%, tidak peduli kita udah ada di posisi itu lima tahun. Tapi kalau kamu belum memenuhi peran itu, bagaimana kamu menjangkau dirimu untuk dipromosi?" tutur Ajeng.

Lebih lanjut, Ajeng memaparkan bahwa dari sudut pandang perusahaan, promosi diberikan kepada individu yang telah menunjukkan kapasitas lebih besar dari perannya saat ini.

Menurutnya, karyawan seperti itu dinilai siap menerima tanggung jawab baru sekaligus mampu membantu organisasi berkembang.

"User itu pasti mikir juga, kalau ada orang yang consistently outgrow dia punya role, berarti dia bisa dikasih tanggung jawab lebih. Saya juga bisa mengurangi sebagian tanggung jawab saya karena orang ini sudah siap," pungkas Ajeng.

Baca Juga: Ketika Jahja Setiaatmadja Rela Downgrade Jabatan dan Penantian Promosi yang Tak Kunjung Datang