Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja mengukir karier gemilang di bank swasta terbesar di Tanah Air itu. Bertahun-tahun mendedikasikan diri, Jahja telah membuat gebrakan yang tak terhitung.
Namun jauh sebelum memantapkan hatinya bergabung dengan BCA. Jahja sebetulnya sudah sudah punya karier yang lumayan menjanjikan di Indomobil. Jabatannya mentereng Direktur Keuangan, sebuah jabatan yang menjadi impian banyak kaum profesional.
Baca Juga: Kisah Jahja Setiaatmadja Dapat Surat dari Anthoni Salim, Apa Isinya?
Jabatan itu rela di barter dengan posisi yang jauh lebih rendah di BCA ketika pemilik BCA kala itu Andree Halim memintanya bergabung.
Bagi kebanyakan orang, meninggalkan posisi nyaman yang sudah dengan susah payah dicapai bukan sesuatu yang mudah. Banyak yang cenderung menolak apalagi jabatan baru yang ditawarkan jauh lebih rendah. Namun Jahja punya cara pandang yang berbeda, tanpa banyak drama ia menerima pinangan itu.
“Jadi saya turun downgrade 2, dari direktur menjadi kepala divisi dan wakil kepala,” ujar Jahja dilansir Olenka.id Kamis (7/5/2026).
“Waktu saya mau masuk BCA, Pak Andre Halim, owner saat itu, bilang ke saya, oke lah, kamu kan direktur keuangan di Indomobil, di BCA ini company-nya lebih luas. Jadi, sorry, kamu nggak bisa sebagai direktur katanya. Cukup general manager, dengan jabatan wakil kepala divisi. Jadi saya turun downgrade 2, dari direktur menjadi kepala divisi dan wakil kepala,” tambahnya.
Tanpa ekspektasi yang muluk-muluk Jahja mulai kerja sebagaimana mestinya. Namun baru dipermulan perjalanannya di BCA, ia dijanjikan bakal promosi jabatan dalam jangka waktu yang hanya setahun saja. Janji Andre Halim itu menjadi bahan bakar yang melecut semangatnya. Jahja langsung tancap gas.
“Pak Andre Halim mengatakan ke saya, you dalam setahun akan jadi kepala divisi katanya. Jadi setahun aja dah, wakil kepala divisi. Oke, oke Pak, saya bilang siap,” kata Jahja mengulang percakapan mereka kala itu.
Meski masuk BCA tanpa ekspektasi yang muluk-muluk, tetapi janji promosi jabatan itu tetap terpatri di pikirannya.
Dan waktu yang ditunggu pun datang. Jahja sudah setahun di BCA namun Janji promosi jabatan itu tak kunjung datang. Memasuki tahun kedua dan ketiga janji itu masih tetap sebatas janji. Jahja masih belum beranjak dari jabatan semula.
Tak ingin tersandera janji promosi jabatan yang bisa mengganggu kinerjanya, Jahja mencoba ikhlas, segalanya direlakan.
Fokusnya hanya satu, bekerja lebih giat dan memanfaatkan segala potensi yang ia miliki.
Tetapi di tengah harapan yang nyaris pupus jawaban yang dinanti justru datang dari arah yang tak diduga. Jahja masih ingat betul, momen itu terjadi pada Januari 1996 atau tahun kelima setelah bergabung ke BCA.
“Januari 96, baru saya dapat suatu surat keputusan. Anda diangkat sebagai kepala divisi,” kenangnya.
Penantian panjang Jahja bisa menjadi pembelajaran bagi generasi muda sekarang ini, bahwa tempat terbaik di suatu koperasi raksasa tidak bisa didapat dengan cara instan, butuh kesabaran yang dibarengi dengan semangat kerja yang pantang kendur.
Masa penantian itu adalah sebuah proses belajar untung mematangkan diri agar kelak pantas menyandang jabatan yang lebih tinggi.
“Nah, bagaimana saya mengevaluasi, selama 5 tahun penantian, apakah patah semangat, apakah uring-uringan, cari pindah kerjaan tempat lain gitu? Nggak. Jadi ini kan dua sisi yang berbeda ya, satu korporasi, satu perbankan. Jadi kita harus belajar banyak. Karena saya ingat, waktu hari pertama atau ke-2 saya masuk di BCA, saya tanya kepala divisi saya, Pak, ada nggak coba peraturan-peraturan yang saya harus pelajari? Karena saya belum pernah kerja di bank,” uajarnya.
Baca Juga: Tentang Perjalanan Jahja Setiaatmadja, dari Mimpi yang Kandas Menuju Puncak Karier di BCA
“Kira-kira gimana Pak, supaya saya cepat bisa belajar? Oh, itu kamu lihat ada tujuh lemari, ya itu semuanya ketentuan Bank Indonesia, kamu pelajari aja tuh tujuh lemari, pasti kamu bisa. Ya ampun, tujuh lemari, mesti dihafal berapa tahun berpikir kan? Tetapi saya ambil hikmahnya bahwa, oke, start untuk belajar sedikit-sedikit. Belakangan sesudah saya diangkat menjadi kepala divisi, saya baru sadar,” tambahnya memungkasi.