Pandangan serupa juga disampaikan Profesor Carolyn S.P. Lam, Senior Consultant di Department of Cardiology, National Heart Centre Singapore, sekaligus Profesor pada Cardiovascular & Metabolic Disorders Signature Research Programme, Duke-NUS Medical School.

Menurutnya, hasil studi ini semakin menegaskan bahwa inflamasi bukan lagi sekadar faktor pendukung, melainkan salah satu penyebab utama tingginya risiko komplikasi pada pasien penyakit kardiovaskular.

"Studi POSEIDON ini menunjukkan dengan jelas bahwa inflamasi bukanlah isu sekunder, melainkan faktor utama yang mendorong peningkatan risiko pada jutaan pasien penyakit kardiovaskular di seluruh dunia yang masih rentan mengalami komplikasi meskipun telah menerima terapi terbaik yang tersedia saat ini," kata Prof. Carolyn S.P. Lam.

Ia menjelaskan bahwa salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah konsistensi tingginya prevalensi inflamasi pada berbagai kelompok pasien dengan karakteristik yang berbeda.

Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang untuk mengembangkan pendekatan yang lebih terarah dalam mengidentifikasi pasien yang paling mungkin memperoleh manfaat dari terapi yang secara khusus menargetkan inflamasi.

"Temuan ini juga mengubah cara kita memandang risiko kardiovaskular residual, serta menegaskan potensi terapi antiinflamasi yang sedang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan medis yang belum terpenuhi," ujarnya.

Dalam studi POSEIDON, inflamasi kardiovaskular diukur menggunakan kadar high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP) sebesar ≥2 mg/L. Pemeriksaan darah ini merupakan salah satu metode yang umum digunakan untuk mendeteksi adanya inflamasi pada sistem kardiovaskular.

Hasil penelitian tersebut juga menyoroti masih adanya kesenjangan dalam tata laksana penyakit kardiovaskular saat ini. Meskipun berbagai faktor risiko utama seperti kolesterol, hipertensi, dan diabetes telah ditangani sesuai pedoman klinis, inflamasi tetap menjadi sumber risiko residual yang belum sepenuhnya tertangani.

Di Indonesia sendiri, penyakit kardiovaskular masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang sangat besar. Stroke dan penyakit jantung iskemik secara konsisten tercatat sebagai penyebab utama kematian.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penyakit kardiovaskular menyumbang sekitar 30 persen dari seluruh angka kematian nasional.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya pencegahan, deteksi dini, serta pengelolaan penyakit kardiovaskular yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Sebagai perusahaan yang telah berkomitmen menangani penyakit kronis selama lebih dari dua dekade di Indonesia, Novo Nordisk menyatakan akan terus mendorong inovasi dalam penanganan penyakit kardiometabolik yang saling berkaitan, termasuk diabetes dan obesitas.

Baca Juga: Jantung Berdebar Setelah Minum Kopi, Berbahayakah? Begini Penjelasan Dokter Tirta