Faktor berikutnya adalah body clock atau jam biologis tubuh. Manusia memiliki mekanisme internal yang mengatur siklus tidur dan bangun sepanjang hari.
Karena itu, kata dia, rasa kantuk pada siang hari tidak selalu berkaitan langsung dengan makanan yang baru dikonsumsi.
“Jadi, di tubuh ada pengatur waktu, ada jam tertentu. Jadi, jam siang itu memang cenderung agak ngantuk,” kata Prof. Zubairi.
Lebih lanjut, Prof. Zubairi menambahkan, rasa kantuk pada siang hari bisa terasa lebih kuat ketika seseorang baru saja mengonsumsi makanan dalam porsi besar. Kombinasi antara jam biologis dan pola makan inilah yang dapat membuat sebagian orang kesulitan menahan kantuk setelah makan siang.
Untuk mengurangi rasa kantuk, Prof. Zubairi menyarankan agar masyarakat memperhatikan porsi makan dan tidak mengonsumsi karbohidrat secara berlebihan. Setelah makan, seseorang juga dapat berjalan santai sejenak sebelum kembali bekerja atau melanjutkan aktivitas.
“Jadi, untuk menghindari itu, makannya sedikit saja. Kemudian habis makan, jalan-jalan. Terus tadi komposisi makanannya, jangan terlalu banyak karbohidrat, jangan terlalu banyak minuman yang manis banget,” ujarnya.
Selain mengatur porsi makan, kata Prof. Zubairi, asupan gula dari minuman kemasan juga perlu diperhatikan. Minuman yang terasa praktis dan menyegarkan ternyata dapat menyumbang gula dalam jumlah cukup besar, bergantung pada jenis dan ukuran kemasannya.
Prof. Zubairi mencontohkan, sejumlah minuman botolan mengandung lebih dari 20 gram gula per kemasan. Jika dibandingkan dengan satu sendok teh gula yang beratnya sekitar 4,2 gram, jumlah tersebut setara dengan hampir lima sendok teh gula.
“Jadi, bayangin sebotol itu sama dengan sekitar lima sendok teh. Kan kalau kita minum dari minuman botol kan selalu habis. Nah, itu 20 gram lebih masuk ke tubuh kita,” jelasnya.
Karena itu, Prof. Zubairi menyarankan agar konsumsi minuman manis kemasan dibatasi dan masyarakat lebih cermat membaca informasi kandungan gula pada label produk.
Baca Juga: Benarkah Makan Banyak Telur Menyebabkan Bisul? Ahli Gizi Jelaskan Faktanya